.cari kerja.

.cari kerja.


Job1

Hari Ahad lalu, saya mendapat tugas dari kantor untuk menjaga stand di job fair Polban. Job fair, bagi saya memiliki kenangan tersendiri. Saya bekerja di kantor saya ini juga hasil mendaftar di job fair. Bagi saya saat itu, job fair  ibarat oase di tengah gurun. Saat sudah lulus kuliah dan mulai diserbu dengan pertanyaan favorit -sudah diterima dimana?- job fair menjadi salah satu jalan keluar yang melegakan. Setidaknya saya akan punya jawaban lain, seperti masih menunggu panggilan tes atau kemarin baru daftar di job fair, belum tahu kapan tesnya dan seterusnya. Alhasil, saat saya menjaga stand kemarin dan melihat para pencari kerja itu, saya merasa melihat diri saya beberapa tahun lalu. Saat itu, berdiri lama-lama antri menginput data, keliling area job fair sambil mencatat lowongan yang ada, atau bolak balik ke kosan mengambil berkas dan memfotokopi menjadi hal yang lazim dan lumrah.

Mencari kerja memang menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan kuliah jaman sekarang. Lain halnya bagi mereka yang memilih  membuka usaha sendiri dan yang berhasil mendapat pekerjaan saat masih menyusun TA atau segera setelah lulus. Beberapa, termasuk saya, harus menjalani fase mencari kerja yang cukup panjang. Pada awal saya lulus, rasanya mencari kerja menjadi hal yang menyenangkan dan wajar. Tentu saja karena masih banyak teman seangkatan yang melalui fase yang sama. Lama-lama, ketika satu persatu dari mereka mulai diterima kerja dan “teman seperjuangan” makin berkurang, rasanya betul-betul nelangsa. Sudahlah hati sedih karena gagal tes, teman seperjuangan melenggang ke perusahaan impian, masih juga dihujani pertanyaan oleh orang sekitar. Meskipun tidak sering, tapi pertanyaan terkait pekerjaan ini sedikit banyak mengganggu. Hehe, jujur saya juga bingung mau menjawab apa untuk pertanyaan semacam ini. Kalau tetangga masih melihat saya wara wiri di rumah, ngekorin ibu ke pasar, dan leha-leha di week days bukankah sudah jelas bahwa saya akan, masih, sedang, dalam proses mencari kerja ya. Tetapi namanya juga orang, “perhatian yang besar” (baca: kepo akut) membuat mereka masih perlu menanyakan hal yang sudah jelas nyata terlihat. Perhatian yang besar ini jugalah yang membuat saya menjadi “cengeng” saat dalam proses cari kerja. Ada rasa bersalah kepada orangtua yang telah membiayai kuliah saya. Kadang saya berpikir, harus berapa lama lagi saya sabar ya, harus ikut tes berapa kali lagi untuk bisa bekerja dan mandiri ya.

Saya masih ingat, suatu sore saya pulang dari warnet dan menangis. Ibu saya sampai bingung, juga bapak yang baru pulang dari masjid. Saat itu saya menangis karena saya gagal tes administrasi di suatu kementerian. Rasanya seperti kalah sebelum bertanding. Saya sudah mengirim berkas di awal pembukaan dan sudah saya lengkapi sesuai yang diminta. Nyatanya lulus administrasi pun tidak. Kali lain, saya bahkan tidak dipanggil sama sekali untuk tes. Padahal berkas sudah lengkap, teman yang IPK nya dibawah saya pun dipanggil. Sekali lagi, orangtua saya menjadi tempat curhat terbaik. Ibu saya hanya bilang SABAR, yang penting sudah berusaha.

Dan Ahad siang kemarin, sepanjang menjaga stand di job fair, saya teringat kembali masa-masa mencari kerja dan segala kecengengan saya. Sekarang saya menganggap semua kegagalan itu wajar dan mungkin memang saya harus mengalaminya untuk belajar menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah terus berusaha dan tetap mencoba, berdoa, serta jangan lupakan restu orangtua.

PhotoGrid_1372939995261

*Foto bareng panitia dari polban yang bantu jaga stand kantor. Btw agak “geli” dengan tulisan di dekat pintu masuk. Apa ada ya pengunjung yang datang bersandal jepit dan bercelana belel, sampai-sampai dibuat peringatan seperti di atas? 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s