.tetangga tukang bubur.

.tetangga tukang bubur.

Tukang_Bubur_Naik_Haji_The_Series

Saya bukan penggemar sinetron  lagi. Oke deh, dulu pernah sih nonton. Jaman sinetron striping Intan, yang mana lalu terhenti karena saya KKN dan saya bersyukur untuk itu. Baiklah, kembali ke topik. Kali ini saya mau bahas tentang sinetron yang hits di kalangan ibu-ibu sekalian termasuk ibu saya. Tidak lain dan tidak bukan Tukang Bubur Naik Haji the series. Setiap saya pulang ke rumah, seperti libur lebaran kemarin, tontonan wajib malam hari di rumah adalah si tukang bubur ini. Mulanya, saya pun menonton sinetron ini. Karena di kos saya tidak punya tivi, saya ikut nonton di tempat Shasha, teman kos saya. Ceritanya cukup menarik, tentang tukang bubur baik hati bernama haji Sulam dan tetangga hobi “sirik” dan “iri” bernama haji Muhidin. Semakin menarik karena diceritakan juga adik ipar haji Sulam, Robby, saling cinta dengan anak perempuan haji Muhidin, Rumana. Begitulah, cerita semakin berkembang dan akhirnya setelah entah berapa puluh atau ratus episode, menikahlah Robby dan Rumana.

Cerita sendiri tidak hanya sampai di situ. Selain menceritakan tukang bubur dan keluarganya serta haji Muhidin dan keluarganya, diceritakan juga tentang tetangga keduanya. Dan entah pada episode ke berapa, saya tidak tahu pasti, “menghilanglah” sosok tukang bubur alias haji Sulam dari cerita.

Menurut ibu saya, yang notabene adalah penggemar sinetron ini, haji Sulam sedang ke Arab Saudi untuk mengembangkan usaha bubur di sana. Entahlah, judulnya tukang bubur tetapi si tukang buburnya sendiri malah menghilang. Tetapi bukan sinetron Indonesia namanya kalau tidak “kreatif”. Begitu tukang bubur menghilang dan entah seperti apa keadaannya sekarang di Arab, muncullah cerita – cerita baru dari para tetangga dan kenalan. Seingat saya pula, ketika secara tidak sengaja menonton, ada saja tetangga baru yang datang ke lingkungan tempat tinggal haji Sulam. Selang berapa minggu tidak menonton, eh sudah ada saja tambahan tetangga. Alhasil,para tetangga inilah yang akhirnya mengisi cerita tukang bubur naik haji.

Agak lucu juga, judul dan yang diceritakan sama sekali ga nyambung. Kenapa ya, sinetron ini tidak diganti judul saja. Saya sih usul, judulnya menjadi TETANGGA TUKANG BUBUR :). Terdengar lebih sesuai antara judul dengan isinya. Hehehe, maksa ya. Ah, tapi ini kan pendapat saya. Boleh sepakat, boleh juga tidak sepakat. Atau mungkin nih, saya baru terpikir sekarang, yang dimaksud tukang bubur ini bukan lagi haji Sulam melainkan mang Ojo. Hehehe, itu lho mang Ojo, tetangga yang membantu menjual bubur di warung haji Sulam. Kalau tukang buburnya mang Ojo, jelas saja tidak perlu ganti judul, wong masih nyambung kok judul dan isinya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s