.ngeyel.

.ngeyel.

Sabar deh, marah-marah juga ga ada gunanya

Belakangan kalimat ini sering saya katakan pada diri sendiri.Ini karena di pekerjaan saya yang sekarang, saya acapkali bertemu orang yang ngeyel dan merasa paling benar. Jadi ketika kami bicara dia kekeuh dengan pendapatnya tanpa mau dengar penjelasan dari saya. Misalpun dia mendengar, ujung-ujungnya akan kembali pada pendapat dia sendiri. Pembicaraan rasanya ngga berguna.

Awalnya ketika ketemu yang ngeyel begini, saya balas dengan ikutan ngeyel. Lama-lama kok capek ya dan malah makin jauh titik temunya. Akhirnya permasalahan ngga selesai. Besoknya ketemu, dibahas lagi tetap tanpa hasil. Kalau sudah begini yasudah. Diterusin diskusi malah nada saya makin tinggi. Terus gimana dong, kan tidak mungkin saya menghindar. Setelah saya amati, ternyata untuk diskusi sama orang yang ngeyel kita perlu menyiapkan beberapa hal, antara lain:

1. Data yang akurat

Berbekal data yang akurat membuat kita bisa memotong ke-ngeyel-an dengan lebih mudah. Saat lawan bicara udah mulai ngeyel, saya tunjukkan data yang mendasari pendapat saya. Siapa tahu pangkal sikap ngeyelnya adalah perbedaan persepsi dan pemahaman. Jika demikian, data bisa digunakan untuk menyamakan persepsi. Selain itu, dengan data pembicaraan juga tetap fokus. Pihak yang ngeyel kalau sudah kepepet akan lompat-lompat ke topik yang lain. Adanya data juga membantu saya untuk mengembalikan ke topik awal.

2. Bersikap tenang dan dengarkan

Orang ngeyel biasanya merasa pendapatnya paling benar dan akan disampaikan dengan kengototan yang super. Sikap yang demikian cenderung membuat rasa marah mudah terpancing. Saya biasanya akan menarik nafas dan tersenyum kemudian menganggukkan kepala seolah menerima pendapatnya. Baru saya akan menyampaikan pendapat saya. Kalau terpancing dan ingin marah, lebih baik pamit ke toilet sebentar atau minum. Memang perlu jeda untuk mendinginkan kepala dan hati dalam menghadapi orang ngeyel.

3. Tidak berhasil? Jangan malu meminta bantuan

Ini adalah langkah terakhir. Jika memang dia tetap dengan pendapatnya yang ternyata belum bisa saya terima, langkah yang tepat adalah meminta bantuan. Sebelum menutup diskusi, saya sampaikan kembali pendapat saya dan mempersilakannya untuk menghubungi atasan saya atau orang lain yang lebih ahli dalam masalah yang sedang didiskusikan.

Oya, bertemu orang ngeyel menyadarkan saya betapa tidak asiknya sikap ngeyel ini. Jadi sekarang setiap mau ngeyel (apalagi untuk hal yang kurang penting) saya akan mengingatkan diri saya untuk mendengarkan pendapat orang lain terlebih dulu. Memang kita tidak harus sepakat dengan semua orang, namun tidak perlu dengan ngeyel kan?

Iklan

14 thoughts on “.ngeyel.

    1. Ngeyel tuh apa ya Winny, semacam dibilangin tapi tetep memegang pendapat dia sendiri, ga mau dengerin. Baru denger kata ngeyel apa Win? Hihi, aku kira bahasa Indonesia lho ngeyel.

  1. Imam Syafi’i berkata : “Aku mampu berhujjah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, kerana orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu” ☺☺

  2. wakakak, ada tuh kolega saya yang kayak gitu.
    tapi yang bikin (makin) kesel itu bukan sekedar ngeyelnya, tapi attitudenya yang gak oke banget.
    tambah ngeselin nggak sih? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s