.#KIBdg4: menjadi guru setengah hari.

.#KIBdg4: menjadi guru setengah hari.

Belum pecah telur kalau ngajar di kelas inspirasi tapi belum ngadepin murid yang nangis atau berantem

Kalimat itu saya dengar saat briefing kelas inspirasi Bandung 4, Februari lalu. Udah lama ya? Hehe, karena satu dan lain hal akhirnya pengalaman ikut kelas inspirasi tahun ini baru bisa saya tulis sekarang. Setelah mendapat murid yang cukup terkendali di kelas inspirasi Bandung 3 pecahlah telur keberuntungan saya di edisi KI Bandung 4 ini. Dan inilah kisah lengkapnya.

Seperti tahun lalu, untuk KI Bandung 4 pun saya mendaftar sebagai relawan pengajar di hari terakhir. Pekerjaan tahun ini alhamdulillah bikin saya lebih lama tinggal di kantor, hehe, dan ga enak untuk ambil cuti. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya mendaftar sebagai pengajar dan alhamdulillah lolos.

20160214_084655.jpg
suasana briefing KI Bandung 4

Briefing KI Bandung 4 dilaksanakan di Gedung Sate. Agak sedih juga begitu tahu teman sekelompok banyak yang tidak hadir. Syukurlah pada hari inspirasi di SD Babakan Jati, 11 relawan dan seorang pendamping bisa hadir. Sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah, setiap relawan akan mengajar di 4 kelas masing-masing selama 40 menit. Kelas pertama saya adalah 6C, kemudian 6A, 5C dan terakhir 4B. Selama setengah hari saya mengenalkan profesi di bidang SDM pada mereka.

fb_img_1461638184919.jpg
berkenalan dengan anak-anak SD Babakan Jati 🙂

Sampai kelas ketiga, semua masih berjalan lancar. Anak – anak cukup antusias mengikuti penjelasan saya. Walaupun saat saya tanya, anak – anak apa itu SDM? Jawabannya macam-macam, termasuk Sumber Daya Magnet. Hehe. Pengalaman di kelas inspirasi sebelumnya sedikit banyak membantu saya dalam mengelola kelas. Metode BOMBER B (Bang, Outline, Message, Bridge, Example, Recap, Bang) yang diajarkan saat briefing juga menolong saya dalam menghadapi  anak-anak yang sering tidak fokus selama proses belajar.

kelas 1_fk
main superman wuzzz

Nah, di kelas terakhir segalanya menjadi di luar kendali. Dari pertama masuk, anak-anak sudah membuat gaduh. Banyak dari mereka yang sibuk bermain dan memukul meja. Benar-benar kelas penguji kesabaran. Dan gongnya adalah dua anak yang saling pukul. Akhirnya dua anak tersebut bisa saya lerai dan diakhiri dengan sesi minta maaf. Walaupun dengan muka cemberut, yang penting keluar permintaan maaf. Selesai satu perkara, timbullah perkara lain. Entah kenapa si anak yang tadi berkelahi, tiba-tiba dipukul temannya sampai menangis. Pecah telur sudah. Dan bagi saya, siang itu rasanya menjadi 40 menit terlama.

fb_img_1461638022170.jpg
kelas 4B dan papan cita-citanya

Salah satu pesan yang disampaikan melalui kelas inspirasi adalah bagaimana anak-anak tahu tentang profesi kita dan cara menjadi profesi tersebut. Maka di setiap kelas, saya jelaskan tentang sekolah yang saya jalani sebelum menjadi seperti sekarang. Dan alangkah sedihnya saya ketika di satu kelas ada anak yang bilang aku mah ga mau lanjut sekolah Bu. Teman sekelasnya sudah punya bayangan SMP mana yang akan mereka tuju namun anak ini sama sekali tidak peduli. Keinginan lanjut sekolah mulai muncul dan semangatnya terlihat ketika saya lemparkan pertanyaan, siapa yang suka nonton my trip my adventure? Pengen jadi presenternya ga? Akhirnya saya jelaskan untuk bisa jadi presenter, seseorang harus belajar dan akan menjadi nilai tambah bila bisa menguasai bahasa asing. Dan salah satu cara belajar adalah melalui sekolah. Semoga keinginan jadi presenter jalan-jalan membuat bocah istimewa ini mau lanjut sekolah.

memo_fk
semoga cita-cita kalian tercapai

Bicara mengenai cita-cita anak SD, saya dibuat kagum juga geleng-geleng kepala. Selain cita-cita yang sering kita dengar semisal tentara, dokter dan polisi, cita-cita yang paling populer di kelas yang saya ajar adalah jadi pemain Persib. Hehe, mantep kan. Di kelas 6A saya bertemu seorang anak yang bercita-cita mau punya distro. Ada juga cita-cita lain yaitu mau jadi anak punk. Duh, anak jaman sekarang. Kalau kata teman saya, anak punk itu maksudnya anak punk-ajian (pengajian).

guru
searah jarum jam: fika, ibu guru, jane, saya, rita, hasan, kang galih, lukman, pak novel, ibu dan bapak guru, eva, mishel (minus kang Adjie dan kang Jerry sebagai dokumentator)

Demikianlah cerita saya menjadi guru setengah hari. Sekali lagi, saya menjadi paham betapa sulitnya menjadi guru sebenarnya. Tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Terima kasih guru-guruku, maaf dulu suka sebel kalau dikasih PR.  Dan terima kasih kelas inspirasi untuk kesempatan tahun ini. Semoga semakin banyak inspirasi yang bisa ditebar, semakin bersemangat anak Indonesia mewujudkan cita-citanya 🙂

P.S. Foto-foto kece ini dipersembahkan oleh  kang Adjie dan neng Fika. Makasih ya.

Iklan

13 thoughts on “.#KIBdg4: menjadi guru setengah hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s