.workshop menulis.

.workshop menulis.

writing1
Let’s write (gambar dari sini)

Satu diantara sekian banyak alasan saya menulis adalah untuk menyimpan kenangan agar tidak terlupakan begitu saja. Mulanya saya menunda membuat blog karena sama sekali ngga punya ilmu tentang menulis. Saya hanya suka membaca. Salah satu jenis bacaan yang saya sukai adalah majalah. Dibandingkan tulisan di majalah, jelas hasil tulisan saya hanyalah setitik debu. Ngga sebanding. Hanya karena blog ini tanpa dewan redaksi, tulisan saya bisa nampang di sini 🙂

Kalau udah tahu ngga punya ilmu kenapa ngga belajar Nit? Ada kok, ada usaha saya untuk belajar. Biasanya saya mencari di Google tentang tips- tips menulis maupun cara membuat artikel yang baik. Ada juga buku tentang menulis yang saya baca. Nah, pekan lalu saya berkesempatan ikut workshop menulis. Ini pertama kalinya saya belajar menulis secara “formal”. Workshop ini diadakan di kantor dalam rangka mendukung kegiatan manajemen pengetahuan.

Pembicara yang hadir yaitu pak Dedi Muhtadi kepala biro harian Kompas Jabar Banten dan pak Sulhan Syafii atau pak Aan seorang penulis buku dan mantan wartawan Gatra. Pak Dedi menyampaikan bahwa menulis itu bagaikan berenang. Betapapun seringnya seseorang mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang renang, ia tetap tidak akan bisa berenang selama ia tidak menceburkan diri ke dalam kolam renang. Menulis pun demikian. Yang terpenting adalah latihan dan terjun langsung. Semakin banyak latihan maka tulisan akan semakin baik. Pak Dedi menambahkan modal untuk bisa menulis adalah pengetahuan dan wawasan. Hal tersebut bisa diperoleh dengan rajin membaca. Peristiwa aktual yang diramu dengan pengetahuan dan data-data akurat akan menjadi artikel yang menarik.

Pada sesi kedua materi diberikan oleh pak Aan. Beliau menyampaikan faktor penghambat dalam menulis adalah takut salah, takut ngga sesuai teori dan takut jelek. Padahal modal menulis itu sederhana saja yaitu mulai dan lakukan, langsung tulis. Kalau bahasa Sunda-nya sih, PRUNG. Pak Aan juga menjelaskan bekal untuk menghasilkan tulisan bagus adalah referensi dan bahan bacaan yang baik. Menurut pak Aan nih, saat sedang ingin menulis, tuliskan saja semuanya. Setelah selesai, ambil jeda untuk menyegarkan pikiran baru kemudian membaca ulang dan  melakukan koreksi tulisan.

Dalam workshop ini pak Dedi dan pak Aan meminta peserta untuk membacakan tulisan yang pernah dibuat kemudian beliau berdua memberi masukan. Secara umum, tidak ada tulisan yang jelek. Hanya saja masih perlu banyak berlatih. Karena tidak ada cara untuk bisa menulis selain terus menulis. Secara pribadi, saya cukup termotivasi dengan adanya workshop ini. Awalnya saya membayangkan akan mendapat teori-teori penulisan namun ternyata saya mendapat tips pamungkas : untuk bisa menulis kita harus rajin menulis. Jadi, sudahkah kamu menulis hari ini?

Iklan

4 thoughts on “.workshop menulis.

  1. Lapor! Saya sudah menulis Mbak…

    Saya malah belum pernah ikut pelatihan menulis apapun . Ilmu menulis saya dapat kan dari membaca bermacam tulisan para blogger baik yang sudah senior maupun yang baru. Mulai mantan jurnalis sampai emak2 seperti saya.

    Bener sekali, jangan mikir mau nulis apa tapi tulis saja yang ada di ‘pikiran. Nggak akan pernah benar2 bisa nulis kalau nggak pernah mulai.

    1. Laporan diterima bu Dyah, hehehe. Iya bu, dari baca blog saya juga buanyak belajar. Walaupun kadang bikin minder habis baca tulisan yang kece-kece. Dipikir-pikir memang benar, cuma menulis satu-satunya cara biar bisa nulis 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s