.pengalaman menukar buku di Toga Mas & Gramedia.

.pengalaman menukar buku di Toga Mas & Gramedia.

Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan. Pernah mengamati struk belanja ngga teman-teman? Kalimat di atas biasanya tercetak di bagian akhir struk. Jadi sebagai pembeli kita harus teliti sebelum membayar. Kalau sudah dibeli ternyata ada cacat atau kerusakan artinya risiko ditanggung sendiri. Nah, bagaimana bila yang cacat adalah buku? Buku baru biasanya terbungkus plastik dan ngga mungkin juga dicoba kaya baju kan?

Saya punya dua pengalaman menukarkan buku. Pertama di tahun 2013, saat itu saya membeli buku Negeri van Oranje di Toga Mas Buah Batu Bandung. Buku ini sudah lama saya incar, hanya saja ngga pernah nemu di toko buku. Jadi tanpa pikir panjang, langsung ambil buku dan bayar. Beberapa hari kemudian ketika saya baca ternyata ada halaman yang hilang. Akhirnya saya bawa kembali buku ini ke Toga Mas berikut struk pembeliannya. Kepada mas pramuniaga, saya sampaikan ada halaman buku yang hilang dan waktu pembelian bukunya. Entah karena masih hafal dengan wajah para pembeli atau apa, pramuniaga langsung mengganti buku dengan yang baru tanpa menanyakan struk pembelian. Anggap saja saya sedang beruntung waktu itu. Alhamdulillah buku pengganti berhalaman lengkap. Walhasil kisah Lintang dan Wicak bisa saya ikuti sampai tamat.

20160604_174457.jpg
buku pengganti

Nah, pengalaman kedua menukar buku saya alami baru-baru ini. Kali ini buku Titik Nol dari Agustinus Wibowo yang saya beli di Gramedia Merdeka Bandung. Saat sedang membaca, saya menemukan beberapa halaman tidak tercetak. Belum punya pengalaman dengan pelayanan tukar buku di Gramedia plus struk yang sudah saya buang, membuat saya ragu apakah saya dapat menukar dengan buku yang baru.

wp-1465168589766.jpeg
tulisannya hilang

Seperti yang saya perkirakan, pertanyaan pertama dari customer service di Gramedia adalah struk pembelian. Saya jelaskan bahwa struknya sudah tidak ada. Lalu mbak CS menanyakan bukunya terbitan mana dan kapan dibeli. Kebetulan buku saya terbitan Gramedia sehingga bisa ditukar walau tanpa struk. Saya juga ingat kapan buku itu saya beli. Buku kemudian saya serahkan dan dicek mana saja halaman yang cacat. Kata mbak CS bukunya bisa diganti. Sebagai pembeli yang baik lebay deh saya katakan bahwa bukunya sudah saya tanda tangani dan saya stempel. Ini memang kebiasaan saya, memberi stempel, menandatangani dan menulis tanggal buku dibeli. Setelah melihat bahwa buku tidak bersih lagi, mbak CS mengatakan buku tidak bisa diganti. Untuk bisa diganti buku harus dalam keadaan bersih. Saya sampaikan bahwa kalau buku tidak diganti saya rugi karena tidak mendapat cerita yang utuh. Mbak CS kemudian menelpon rekannya, mas CS,  dan tetap tidak bisa mengambil keputusan. Keputusan penggantian buku didapat setelah Mas CS menghubungi pegawai yang lain (kurang tahu, mungkin supervisornya).

20160606_061145.jpg
buku pengganti (juga)

Pelajaran berharga dari pengalaman ini adalah jangan lupa memeriksa keadaan buku sebelum distempel dan ditandatangani. Kebiasaan memeriksa buku rajin saya lakukan setelah hilangnya halaman di buku Negeri van Orange. Setelah sekian buku dibeli dan semuanya lengkap, saya menyimpulkan bahwa semua buku dari toko sudah melewati pengecekan dan dalam kondisi lengkap. Akhirnya saya mengabaikan pengecekan buku. Hal lain adalah tidak membuang struk pembelian sampai buku selesai diperiksa 🙂 Kalaupun dua kali ini saya cukup beruntung mendapat buku pengganti, tidak ada salahnya tetap berjaga-jaga.

Kalau kamu, pernah punya pengalaman menukar barang ngga? Cerita dong.

Iklan

16 thoughts on “.pengalaman menukar buku di Toga Mas & Gramedia.

  1. Kalau pengalaman saya adalah…buku yang saya terbitan cetakannya tidak bagus dan ada beberapa halaman yang tintanya seperti mbleber gitu. Saya tahu karena bukunya mau saya tanda tangani sebelum dikirim ke pemesan. Untungnya penerbite mau gantiin meski cuma sebagian

    1. Sebagian lagi tetep mbleber bu? Trus gimana, tetep dikirim juga yang begini? Bu Dyah teliti ya, ngecek buku pas mau tanda tangan.

      1. Soalnya itu hasil jerih payah saya nulis Mbak. Ibaratnya orang jualan saya nggak mau kecewain pelanggan.
        Iya terpaksa dikirim dalam keadaan nggak bagus.

      2. Sebagai pembaca saya kecewa kalau buku yang saya beli cetakannya jelek. Apalagi penulis yang seperti ibu bilang, hasil jerih payah.

      3. Iya. Tapi itu resiko yang harus saya hadapi karena memilih penerbit indie dengan biaya murah. Dan akhirnya kapok nggak pakai penerbit itu lagi. Insyaallah bentar lagi novel baru saya keluar Mbak. Lagi dalam proses test cetak katanya. Doain lancar ya…

  2. Kalau aku waktu itu ditukar langsung ke penerbitnya. Karena belinya online, pas aku tanya ke yang jual, dikasih tau untuk kirim bukunya beserta surat ke kantor penerbitnya. Alhamdulillah kurang dari seminggu udah dapet penggantinya yang lengkap 🙂

    1. Alhamdulillah dapat gantinya cepet ya mbak. Selama ini kalau beli buku online, untungnya saya dapat yang lengkap terus. Pengalaman mbak Heryani bisa buat jaga-jaga ini. Hehe.

  3. Sungguh beruntung, tapi saya kok tidak seadil itu ya. Kalau buku saya kosong ada halaman rusak atau kosong, tidak pernah menukarkannya. Saya cenderung cuek atau ogah. Ya, saya cuma memainkan imajinasi, awal hilang sampai akhir hilangnya apa, maka saya membuat cerita sendiri untuk mengisi kekosongan. Ya, begitu deh. Hehehe (dasar orangnya aja kali malas nukar buku)

    1. Bukan malas itu Mas, tapi sampeyan kreatif. Hehe, kalau saya penasaran e kalo ada yang hilang gitu. Obatnya kudu baca yang halaman lengkap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s