.5 hal yang perlu disiapkan untuk umroh.

Fiuuh, rupanya tulisan umroh sudah saya buat 2014 lalu. Dan janji untuk melanjutkan bahasan tentang persiapan umroh baru dapat ditunaikan sekarang. Maafkan saya. Namun semoga keterlambatan penulisan ini bisa memberikan informasi yang lebih lengkap serta bisa membantu siapa saja yang kebetulan akan pergi umroh dan perlu referensi.

Umroh adalah sebuah perjalanan ziarah di tanah suci yang memerlukan persiapan matang. Seperti tulisan sebelumnya, saya membagi persiapan umroh menjadi 5 macam yaitu persiapan administrasi, fisik, ilmu, perlengkapan dan belanja/ jajan. Mari kita bahas satu persatu.

1. Persiapan administrasi

Berkaitan dengan berkas-berkas pendaftaran umroh, ada beberapa hal yang menurut saya perlu perhatian khusus yaitu paspor, vaksin meningitis, foto dan visa. Untuk bisa bepergian ke luar negeri paspor menjadi hal wajib. Selain itu paspor juga diperlukan pada saat melakukan vaksin meningitis. Jadi syarat pertama ketika akan umroh adalah sudah memiliki paspor. Khusus untuk umroh, nama kita di paspor harus terdiri dari tiga kata. Misalnya saya yang namanya hanya dua kata maka saya menambahkan nama bapak di belakang nama sendiri.

Gimana cara membuat paspor? Kita bisa datang langsung ke kantor imigrasi yang paling dekat dengan domisili. Sebagai referensi, saya pernah menulis pengalaman tentang perpanjangan paspor di sini. Proses buat baru dan perpanjangan paspor tidak jauh berbeda. Jika tidak ada yang menemani atau masih ragu untuk membuat paspor sendiri, kita bisa meminta batuan pihak tur. Setahu saya tur umroh bersedia membantu pengurusan paspor.

Setelah paspor di tangan, kita juga harus punya visa umroh dari kedutaan Arab Saudi. Salah satu yang dipersyaratkan untuk memperoleh visa umroh adalah surat keterangan sudah divaksin meningitis. Surat keterangan ini dikenal dengan kartu kuning. Pemberian vaksin meningitis bisa dilakukan di kantor kesehatan pelabuhan. Untuk Bandung, kita bisa melakukan vaksinasi di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Bandung. KKP Bandung terletak di Jalan Cikapayang dekat dengan perempatan Dago. Untuk mendapatkan vaksin meningitis, kita tidak perlu membawa paspor asli namun cukup fotokopinya saja. Selanjutnya seluruh proses sudah terkomputerisasi. Biaya vaksin sebesar 305.000 rupiah meliputi biaya administrasi, pembelian buku kuning dan vaksin. Untuk jamaah perempuan, ditambah dengan tes kehamilan seharga 25.000 rupiah. Bila sedang sepi, hanya dibutuhkan sekitar 30 menit untuk proses vaksin beserta administrasinya.

Nah, kalau untuk foto umroh ukuran yang diminta 4×6 dengan latar putih dan proporsi wajah 80%. Biasanya pihak studio foto sudah paham ukuran dan persyaratan foto umroh. Duh, ini pembuatan pas foto yang paling bikin saya tidak PD. Berasa foto isinya muka semua. Setelah lengkap, paspor, kartu kuning dan foto kita kumpulkan ke pihak tur. Jangan lupa berdoa semoga visa bisa terbit dengan lancar.

2.  Persiapan fisik

_20180128_140826.JPG

suasana sai

Ibadah umroh memang tidak selama ibadah haji. Namun tetap saja diperlukan fisik yang prima. Bila kita sudah biasa berolah raga, hal tersebut akan sangat membantu selama kita melaksanakan ibadah umroh. Namun bila kita tidak biasa olah raga, tidak ada salahnya bila sebelum umroh kita banyak berjalan kaki atau sekedar jogging di akhir pekan. Hal ini karena selama umroh kita banyak berjalan. Minimal jalan dari penginapan ke masjid.

Bagaimana dengan tawaf dan sai? Sejujurnya inilah alasan saya rajin olah raga sebelum umroh. Tawaf saat umroh pastilah tidak sepadat saat musim haji. Titik kepadatan biasanya ada di dekat hajar aswad, maqam Ibrahim dan hijr Ismail. Putaran tawaf menjadi agak tersendat di sini. Sedangkan di area setelah hijr Ismail, relatif lebih lancar. Saya sendiri mempersiapkan diri dengan olahraga sejak sebulan sebelum berangkat umroh. Sebagai simulasi kita bisa melakukan jalan keliling lapangan sebanyak tujuh kali.

Lain lagi dengan sai. Sai adalah berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali atau totalnya sekitar 3,5 kilometer. Kalau tawaf tidak ada jeda artinya kita terus bergerak memutari Ka’bah sedangkan untuk sai relatif lebih santai. Namun tetap saja diperlukan fisik yang kuat agar proses sai berjalan dengan lancar dan tidak terlalu ngos-ngosan 🙂

Selain itu bila kita mempersiapkan kondisi fisik dengan baik, rasa lelah karena perjalanan, adaptasi dengan kondisi cuaca yang berbeda ataupun kurangnya istirahat pada hari pertama tidak akan terlalu berpengaruh pada badan kita. Untuk itu, sekali lagi, jangan lupa olah raga ya sebelum umroh.

3. Persiapan ilmu

wpid-photogrid_1434697379135.jpg

buku yang bisa dibaca sebagai bekal umroh

Sebelum melakukan sesuatu akan lebih mantap jika kita tahu ilmunya. Demikian juga dengan umroh. Setidaknya kita harus tahu tata cara dan doa yang dibaca. Bekal ilmu bisa kita dapatkan dari buku, internet maupun tanya ke orang yang sudah pernah umroh. Bila tidak ada waktu untuk membaca buku sempatkan untuk hadir saat tur mengadakan manasik dan membaca buku panduan doa yang dibagikan ke jamaah.

Menurut saya pribadi, membekali diri dengan banyak pengetahuan akan sangat memudahkan pelaksanaan ibadah. Misalnya bila kita batal saat putaran tawaf belum selesai, apakah mengulang atau bagaimana? Sebelum berangkat puaskan ke-kepo-an kita sebanyak-banyaknya. Selain yang berkaitan dengan ibadah, kita juga bisa kepo dengan hal lain misal cara masuk Raudhah atau tentang mencium hajar aswad. Bekal pengetahuan seperti ini akan membuat ibadah kita lebih nyaman dan mantap.

Bagaimana dengan hafalan doa? Tidak ada tuntutan untuk menghafal doa, namun ada beberapa doa yang menurut saya perlu untuk dihafalkan karena akan membuat ibadah lebih nyaman. Doa tersebut antara lain doa melihat Ka’bah, doa di bukit Safa dan doa saat tawaf. Tidak perlu menghafal doa panjangnya, cukup hafalkan doa yang pendek saja.

Jika ada teman atau saudara yang kebetulan baru pulang umroh, sempatkan untuk mengobrol dan bertanya tentang situasi terkini di Mekah dan Madinah. Terutama kondisi cuaca terkini dan kepadatan jamaah. Selain itu tanyakan juga kondisi di Masjidil Haram. Karena sering ada renovasi, keadaan di Masjidil Haram paling sering berubah. Seperti saat saya umroh Desember lalu, tawaf di depan Ka’bah hanya diperbolehkan bagi jamaah pria berihram dan jamaah yang ingin ke lantai dasar hanya bisa lewat pintu tertentu.

4. Persiapan perlengkapan

Seperti perjalanan lainnya, untuk umroh kita juga harus menyiapkan perlengkapan. Saya pribadi punya list perlengkapan untuk mengecek barang yang harus saya bawa tiap melakukan perjalanan. Cek list saya meliputi pakaian, obat-obatan, alat elektronik dan pendukungnya, jajanan dan sebagainya seperti gambar ini. Silakan ditambahkan sesuai kebutuhan teman-teman.

Pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah bawa berapa baju dan modelnya seperti apa? Sebenarnya untuk jumlah baju relatif sesuai kebutuhan masing-masing. Namun bisa dipertimbangkan kondisi cuaca di sana dan apakah mau mencuci atau tidak. Jika tidak mencuci, maka jumlah pakaian sesuaikan dengan jumlah hari. Namun bila akan mencuci, jumlah baju bisa dikurangi. Untuk model baju, saya menggunakan celana panjang dan tunik. Intinya mau memakai gamis atau celana dan tunik tetap gunakan pakaian yang sopan dan tidak menerawang.

Perlengkapan lain yang perlu dibawa adalah sajadah sebagai antisipasi bila harus solat di luar atau di sela-sela baris yang tidak ada karpetnya dan tempat air minum untuk mengambil air zamzam di masjid (lebih bisa menampung banyak daripada gelas yang disediakan serta mengurangi risiko tumpah).

Satu lagi pertanyaan yang sering ditanyakan adalah pakai sepatu atau sandal? Hmm, saya sendiri belakangan lebih nyaman pakai sepatu. Jadi untuk pertanyaan ini jawabannya kembali ke kebiasaan masing-masing. Yang pasti untuk alasan kepraktisan, sepatu atau sandal ini bakalan kita bawa masuk ke masjid jadi sediakan tas untuk menyimpan alas kaki ya.

5. Persiapan belanja atau jalan

Nah, ini juga satu pertanyaan yang sering ditanyakan. Bawa uang berapa? Hehe, jawabannya relatif. Yah, selesai dong kalau jawabnya gitu. Oke deh saya coba jawab. Buat saya sendiri, persiapan belanja atau jajan ini berkaitan dengan kebutuhan masing-masing orang. Misalnya apakah mau membeli oleh-oleh atau tidak, beli baju di sana saja atau bawa semua dari Indonesia, apakah mau beli perhiasan emas atau tidak (mengingat kebiasaan sebagian jamaah umroh yang sering membeli emas Arab), apakah mau mencuci sendiri atau laundry serta mau beli paket data atau mengandalkan wifi penginapan dan apakah cukup menikmati makan dari tur atau sesekali ingin jajan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar perhitungan berapa banyak uang yang harus kita bawa.

Selanjutnya, untuk menukarkan uang pun ada berbagai model di Indonesia. Ada money changer yang hanya menyediakan pecahan besar ada juga yang menjual paket Riyal yang terdiri dari pecahan kecil sampai besar. Kalaupun tidak sempat menukar uang di Indonesia, tidak perlu khawatir. Di sekitar komplek masjid Nabawi dan Masjidil Haram terdapat ATM yang bisa kita gunakan. Atau bila membawa uang Rupiah, bisa kita tukarkan pada mutawif. Beberapa toko juga menerima uang rupiah meskipun nilai tukarnya lebih mahal karena mengikuti kehendak pedagangnya.

Selain lima persiapan tersebut, ada satu hal lagi yang harus disiapkan sejak awal. Yaitu persiapan hati. Hati yang siap dengan niat baik dan pikiran positif. Takut pasti ada, karenanya jangan lupa selalu berdoa. Sekian sharing dari saya. Saya yakin masih banyak kekurangan dari yang saya tulis. So, monggo yang mau tanya atau berkomentar, semoga bisa menambah lagi pengetahuan untuk persiapan umroh 🙂

Satu respons untuk “.5 hal yang perlu disiapkan untuk umroh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s