.mencicipi kue kekinian ala artis.

.mencicipi kue kekinian ala artis.

Siapa yang sudah mudik dan dapat pesanan buat bawa oleh-oleh kekinian? Hahaha. Buat warga instagram pasti familiar dengan jargon oleh-oleh kekinian. Entah memang dimiliki atau sekedar dijual atau karena diiklankan oleh para artis, kue-kue ini nampak laris bahkan ada jasa titip belinya. Dari sekian banyak kue yang beredar, ada beberapa yang sudah saya cicipi. Ini dia cerita lengkapnya.

1. Bandung Makuta

Kue kekinian yang satu ini punya jargon “ini teh ngangenin“. Seberapa bikin rindu sih? Menurut saya pribadi, so so rasanya. Bentuknya kotak, semacam mangkok pastry terus diisi cake di atasnya. Saya mencoba rasa lemon dan keju. Pastry-nya renyah dan ngga terlalu manis. Untuk cake nya sendiri, menurut saya sih kurang empuk. Rasanya? Dari skala 1 sampai 10, buat saya 7. Ini masalah selera sih ya, mungkin nilai bisa naik kalau yang saya coba double cheese secara belakangan ini saya lagi keranjingan makanan berbau keju šŸ™‚

20170523_205058.jpg
makuta rasa lemon

Di awal kemunculannya, Bandung Makuta ini sukses membuat heboh. Terbukti dengan ramainya jasa titip beli kue sampai antrian yang panjang. Saya pun bisa nyicip Makuta berkat teman yang juga menggunakan jasa titip. Belakangan di Bandung muncul Bandung Kanaya punya keluarga Mama Amy plus Princess Cake-nya Syahrini. Nampaknya persaingan kue kekinian di Bandung mulai hangat dan yang pasti makin banyak pilihan buat pembeli.

2. Jogja Scrummy

Jogja Scrummy punya Dude Herlino ini sudah ada jauh sebelum gencarnya “serangan” kue kekinian di instagram. Pertama kali saya membeli cake ini di outlet Jalan Kaliurang. Kebetulan saya membeli di luar musim liburan. Waktu itu stoknya banyak dan tokonya pun relatif sepi. Tapi saat liburan April lalu, adik saya ke outet Scrummy dan pembelian dibatasi dua kotak per pembeli. Itupun dengan stok dan pilihan rasa yang terbatas.

20170523_210602.jpg
scrummy dan carrot cake

Read more

.1006.

.1006.

20170610_063859.jpg

Tidak ada yang berbeda dari 10 Juni. Waktu tetap 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik. Yang membedakan hanya doa yang semakin komplit dan waktu berdoa yang lebih lama. Rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Alloh SWT sampai hari ini. Tidak lupa permohonan agar dikaruniai usia yang panjang dan penuh manfaat, tercapainya cita-cita dan harapan, diberikan kesehatan yang paripurna serta hidup yang penuh keberkahan. Semoga doa-doa itu diijabah Yang Maha Kuasa, aamiin. Dear myself, happy birthday šŸ™‚

Syukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugrah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpah

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

Jika ada penghargaan bulan terfavorit di 2017 saya memilih April sebagai pemenangnya. Alasannya sederhana, April memberi 3 kali long weekend berturut-turut. Alhamdulillah di long weekend tanggal 22 kemarin saya akhirnya bisa ketemuanĀ dengan teman kos Bandung. Jadi ceritanya, pas penempatan Bandung saya satu kos dengan tiga teman kantor; Caya, Sri dan Shasha. Dan karena ngga ada yang pasti di dunia kerja selain pindah, maka berpencarlah kami sekarang menyisakan Shasha yang masih setia dengan Bandung.

Sabtu itu meeting point kami adalah Stasiun Bekasi. Biar gampang, saya memulai perjalanan dari Sukabumi dengan kereta. Sampai di Bogor lanjut KRL dan janjian dengan Sri di Pondok Cina terus lanjut KRL lagi sampai Bekasi. Shasha diantar abang gojek dari terminal Bekasi ke stasiun. Kami bertiga dijemput Caya dan suaminya. And guess what, saya berangkat dari Sukabumi jam 5.15 dan baru sampai di rumah Caya sekitar jam 2 siang. Kesimpulan pertama kami adalah istilah tua di jalan itu bukan sekedar isapan jempol.

20170520_134327.jpg
reuni

Pulang dari rumah Caya, kami ikut Sri ke Depok. Cek list sudah Bogor, Bekasi dan Depok. Kami bertiga punya agenda ke BBW di ICE Tangerang. Buat pecinta buku, BBW atau big bad wolf books memang surga. Gimana nggak, buku-buku berkualitas dijual dengan harga miring. Nggak heran walaupun dibuka 24 jam BBW tetap penuh. Untungnya, pas kemarin kami ke sana ngga terlalu berdesakan dan antrian pembayaran pun ngga lama. Tahun depan kalau ada BBW lagi saya pengen datang lagi. Mungkin sambil buka jasa titip?

Ada beberapa buku yang saya cari di BBW sebenarnya. Buku travelling dan kerajinan. Sayangnya saya ngga dapat buku incaran. Alhasil saya lebih banyak melihat dan mengamati pengunjung BBW. Kapling paling ramai adalah box buku anak. Porsi buku anak di BBW memang cukup besarĀ dan banyak peminat. Termasuk Sri, yang khusus ke BBW buat beli buku anak dan Shasha yang ikutan meramaikan lapak buku anak karena dititip Caya. Selanjutnya yang ramai lagi lapak novel dan buku-buku fiksi. Untung kemarin masih kuat iman buat ngga ngangkut set Wimpy Kid dan cukup senang membawa pulang buku Life Traveler.

Selesai belanja buku di BBW, saya dan Shasha memilih naik KRL ke Jakarta. Sri dan keluarganya masih lanjut nge-mall di AEON. Pilihan untuk ngga langsung balik ke Sukabumi dan Bandung adalah opsi terbaik. Kebayang capeknya kalau nekat balik sore itu juga. Dari ICE saya memesan angkutan online Grab sampai stasiun Serpong. Ngobrol-ngobrol dengan drivernya, ternyata si Bapak adalah orang Jakarta dan ngga ngerti daerah Serpong sama sekali. Secara penumpang dan driver sama-sama ngga tahu arah kami mengandalkan Google map. Lucu deh kalau diingat, karena kami tetap nyasar meskipunĀ sudah pakai panduan. Untung bapak driver sabar dan setelah tahu kami mau ke Jakarta malah nawarin buat naik grabnya sampai Jakarta. Biaya tol ditanggung pak driver dan kami cukup bayar sesuai tarif grab. Tapi, ehem, secara kami irit sedang berhemat, KRL tetap opsi terbaik. Hehehe.

dsc_3511.jpg
salah satu “sponsor”

Di Jakarta saya dan Shasha menginap di daerah Dukuh Atas. Cerita grab terulang kembali. Dari Tanah Abang ke Dukuh Atas, bapak driver juga ngga tahu musti lewat mana. Dan kami kembali muter-muter walaupun sudah mengikuti google map. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.

Dipikir-pikir, sukses acara long weekend kali ini turut disponsori KRL dan angkutan online. Ngga heran kalau sekarang dibangun MRT dan LRT. Alat transportasi yang cepat dan bisa ngangkut banyak memang mutlak bagi Jakarta dan kota penopang di sekitarnya. Lha, terus angkutan online Nit? Perlu juga. Salah satunya untuk yang “baru pertama” ke suatu tempat dan masih bingung harus naik angkutan umum apa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ngumpul lagi. Mungkin kamu mau ikutanĀ mensponsori transportasinya? Hehe.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

Deg-degan. Itulah yang saya rasakan sebelum mengikuti kelas inspirasi Sukabumi 2. Kali ini deg-degannya bukan karena bingung gimana cara ngenalin profesi ke anak SD seperti KI Bandung 3 dan KI Bandung 4 tapi lebih ke persiapan kelompok sebelum mengajar. Gimana nggak, saat briefing dari 14 relawan pengajar hanya empat yang datang plus tidak ada dokumentator yang hadir. Memang, salah satu tantangan KI Sukabumi adalah mayoritas relawannya tinggal di luar Sukabumi. Termasuk di kelompok saya. Dari total 17 orang, yang sehari-hari di Sukabumi cuma saya sendiri. Jadilah segala koordinasi dilakukan lewat grup whatsapp.

DSCF5612
tim WA šŸ™‚

Kelompok kamiĀ beruntung karena ada dua fasilitator yang menjadi pemandu di grup dan banyak membantu tugas yang harusnya dikerjakan olehĀ kami, relawan inspirator dan dokumentator. Jadwal mengajar, acara pembukaan dan penutupan, desain spanduk, konsumsi hingga papan cita-cita untuk siswa dan pernak pernik lain kami putuskan via diskusi di grup WA. Inilah pelajaran pertama dari KI Sukabumi yaitu belajar komunikasi yang efektif dan negosisasi.Ā Gimana caranya keputusan bisa diambil tanpa bertemu dan bisa diterima dengan baik oleh seluruh anggota grup.

DSCF4848
pembukaan

Sampai dengan hari H, terkonfirmasi enam relawan pengajar dan dua dokumentator. Sesuai pembagian sekolah, kami mengajar di MI Azzahidiyah. Kelompok saya bersepakat untuk mengajar kelas 1 sampai 6. Kalau boleh jujur saya lebih milih ngajar kelas 3 sampai 6 saja. Ngga tahu kenapa rasanya takut mau masuk kelas 1 dan 2. Ternyata dari hasil pembagian saya mendapat kelas 5, 2 dan 4. Ā Mau ngga mau saya harus menerima tugas ini dan belajar untuk berani menerima tantangan sertaĀ keluar dari zona nyaman. Setelah pembagian kelas dan persiapan kelompok selesai, barulah saya memikirkan cara mengajar dan materi yang saya butuhkan. Berbeda dengan profesi sebelumnya di bagian SDM, pekerjaan sekarang di bagian K3 sebenarnya lebih mudah dijelaskan. Jadilah segala brosur dan foto yang ada kaitannya sama kerjaan saya potong dan tempel untuk bahan ajar.

Kismi 1
tempel sana sini

Read more

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

Weekend ini ke Bandung lagi mbak? Belakangan kalimat ini menjadi pertanyaan paling sering saya terima. Kalau jawabannya iya, biasanya dilanjut dengan belum move on ya mbak? Kalau dijawab engga, ditimpali dengan tumben. Sebenarnya ngga ada yang spesial dengan berakhir pekan di Bandung kecuali keberadaan teman-teman saya mungkin (boleh GR kalian, hehe). Makanya pas Januari lalu main ke Bandung, saya bingung mau ke mana. Mal? Pasar Baru? Taman? Hmmm kok rasa-rasanya males. Entah kenapa kemarin pengen banget baca-baca buku di perpus. Perpustakaan Jabar di Kawaluyaan itu nyaman banget, sayang jauh dan tutup di hari Minggu. Akhirnya tujuan berbelok ke taman bacaan. Taman bacaan? Yup, tempat dimana kita bisa menyewa buku. Zaman saya kuliah dulu saya pelanggan taman bacaan lho, lumayan lebih hemat daripada beli buku atau majalah sendiri. Di Bandung ada beberapa taman bacaan, salah satunya Pitimoss. Selain Pitimoss, saya pernah juga ke Zoe di jalan Dipati Ukur.

dsc_2826.jpg
pitimoss

Saya bersama Koff sampai di Pitimoss jam setengah 10 pagi. Tempatnya ada di Jalan Banda. Sepertinya kami adalah pengunjung pertama hari itu. Ketika sampai, di sana masih sepi dan mbak yang jaga baru selesai bersih-bersih. Pilihan buku di Pitimoss lumayan lengkap dan update. Pencarian buku pun sudah terkomputerisasi. Buku terbaru Adhitya Mulya, Bajak Laut & Purnama Terakhir menjadi incaran saya. Sayang bukunya sedang dipinjam. Alhasil saya beralih ke buku Dewi Lestari. Dari sederet buku Dee, saya memilih Madre karena cukup ā€œtipisā€ untuk dibaca di tempat.

dsc_2825.jpg
memilih buku

Ternyata ada hikmah ke Pitimoss di hari Minggu yaitu gratis baca buku di tempat. Langsung nyesel kenapa cuma ambil satu buku.Ā Tempat baca di Pitimoss ada di bagian belakang. Tersedia kursi-kursi kayu yang cukup nyaman untuk duduk. Saya dan Koff menghabiskan sekitar tiga jam di Pitimoss. Selesai dari sini, kami melanjutkan ke Gramedia Merdeka.

20170304_224943.jpg
let’s read

Sebenarnya saya ngga berniat beli buku karena memang goal tahun ini membaca buku yang sudah dibeli dengan target Ā minimal satu bulan satu buku. Jadi main ke Gramedia ini sekedar untuk melihat-lihat dan numpang baca. Ternyata hari itu di Gramedia sedang ada bincang buku bersama pak Bondan Winarno. Yup, pak Bondan maknyus yang suka icip-icip itu. Kebetulan yang menyenangkan. Mulanya saya mengira yang dibahas adalah buku wisata kuliner atau yang masih berhubungan dengan makanan. Namun rupanya buku yang dibincangkan adalah kumpulan cerpen pak Bondan berjudul Petang Panjang di Central Park.

dsc_2828.jpg
bincang buku

Read more