.when life gives you lemon, make lemonade.

.when life gives you lemon, make lemonade.

Semakin banyak orang yang saya temui dan hal yang saya lakukan, saya bertambah sadar bahwa hidup tidak selalu seperti apa yang kita cita-citakan. Ada masa dimana saya rasanya sudah mengatur hidup sedemikian rupa. Saya mau di jalur A saja. Dan walla, sebulan kemudian hidup memberi saya sesuatu di luar rencana. Saat itu ketemulah saya dengan quote yang menjadi judul tulisan ini.

Kata orang, jika ada dalam kondisi pengen semangka yang manis dan besar tapi malah dikasih lemon yang asem dan kecil, manfaatin saja lemon yang ada. Keliatannya enak banget ya pas ngomong, ambil positifnya aja dan yakin bahwa yang terjadi pada kita adalah yang terbaik. Nyatanya tidak semudah itu. Perasaan yang mendominasi ketika pertama mendapati hal di luar keinginan adalah kecewa. Dalam menghadapi kekecewaan ini saya memilih untuk menerima. That’s life. Saya boleh kecewa tapi ada deadline sampai kapan perasaan itu ada di diri saya. Selanjutnya saya coba mencari hal-hal baik dari kondisi tidak mengenakkan itu. Untuk mencari hal baik ini harus diawali dari pikiran positif. Itulah kenapa ada deadline masa kecewa sebagai proses dari pikiran negatif menuju sebaliknya. Saya masih percaya waktu adalah penyembuh terbaik untuk segala hal. Kalau sudah begini baru keliatan hal-hal menyenangkan yang bisa saya lakukan dengan keadaan sekarang.

Oya, saya perlu sebulan lebih sampai berhasil mengolah lemon menjadi lemonade. So, what about you? When life gives you lemons, what will you do?

lemonade
source: pinterest

 

Iklan
.pengalaman perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Sukabumi.

.pengalaman perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Sukabumi.

Minggu pertama masuk kerja sudah berakhir. Semangat mana semangat? Sebelumnya saya mohon maaf ya teman-teman jika selama menulis di blog ini atau membalas komentar ada yang kurang berkenan. Mumpung masih suasana Lebaran. Maafin ya, akang teteh sadayana.

Di hari pertama masuk kerja kemarin saya ngabur sebentar ke kantor imigrasi buat perpanjang paspor. Jadi ceritanya paspor saya habis masa berlaku awal 2018. Sementara KTP saya masih ada tanggal berlakunya dan itu sampai 10 Juni kemarin. Karena parno bakalan ditanya-tanya tentang tanggal berlaku KTP akhirnya tanggal 8 Juni saya ke kantor imigrasi buat urusan paspor ini.

Niat awal, saya akan memperpanjang paspor di Kanim Jakarta Selatan sekalian ganti jadi e-passport. Kan lumayan, bisa dapat visa waiver buat ke Jepang. Namun apa daya, waktu yang tidak memungkinkan membuat saya harus membatalkan rencana ini. Sebenarnya saya cukup surprise dengan adanya kantor imigrasi di Sukabumi. Tadinya saya pikir harus ke Bogor buat urus paspor. Alhamdulillah bisa lebih dekat. Kantor imigrasi ada di Jalan Lingkar Selatan, persis di sebelah terminal bus Sukabumi.

20170705_095132.jpg
datang kepagian

Seperti banyak diceritakan untuk mengurus paspor disarankan datang pagi. Waktu membuat paspor di Kanim Bandung saya juga datang jam setengah 7 dan antrian sudah panjang. Nah pas di Kanim Sukabumi ternyata jam segitu masih sepi dong. Ngga terlihat antrian sebelum kantor dibuka. Tahu gini saya datang aja sesuai jam pelayanan. Jadi ngga perlu buru-buru berangkat dan buang waktu satu jam buat nunggu.

Setelah pelayanan dibuka, saya segera menuju customer service untuk mendapatkan formulir bermap orange. Lengkapi saja formulirnya sesuai data kita. Selanjutnya formulir dikumpulkan dengan dilengkapi syarat sebagai berikut:

1. Fotokopi KTP. Jangan lupa untuk memfotokopi KTP di kertas A4 dan tidak dipotong. Biarkan aja tetap dalam ukuran kertas A4.

2. Fotokopi kartu keluarga. Ini juga sama dikopi di kertas A4. Oya, ada baiknya cek dulu data di KTP dan kartu keluarga. Waktu membuat paspor dulu, permohonan saya ditolak karena RT di KTP dan kartu keluarga lain. Jadi lebih baik pastikan dulu data-datanya daripada sudah ke kantor imigrasi dan ditolak. Sakit rasanya ditolak, apaan sih ini.

3. Fotokopi akte kelahiran atau ijazah atau surat nikah bagi yang sudah menikah (ya iyalah). Ukuran kertas masih sama, pokoknya semua pakai kertas A4 ya. Ini opsional sih, saya kemarin pakai akte kelahiran saja tanpa fotokopi ijazah apalagi surat nikah.

4. Surat rekomendasi dari kantor. Surat ditujukan ke Kanim Sukabumi dan isinya menerangkan bahwa saya bekerja di kantor tersebut.

5. Paspor lama. Karena saya mau perpanjang paspor, jadi paspor lama saya dikumpulkan beserta persyaratan lainnya.

Selain berkas-berkas tersebut, kita juga harus mengisi surat pernyataan bermeterai. Buat yang ingin tambah nama ada surat permohonan tambah nama yang harus dilengkapi. Tenang, surat-surat tersebut berikut meterainya ada di koperasi. Tinggal beli dan isi saja.

Read more

.mencicipi kue kekinian ala artis.

.mencicipi kue kekinian ala artis.

Siapa yang sudah mudik dan dapat pesanan buat bawa oleh-oleh kekinian? Hahaha. Buat warga instagram pasti familiar dengan jargon oleh-oleh kekinian. Entah memang dimiliki atau sekedar dijual atau karena diiklankan oleh para artis, kue-kue ini nampak laris bahkan ada jasa titip belinya. Dari sekian banyak kue yang beredar, ada beberapa yang sudah saya cicipi. Ini dia cerita lengkapnya.

1. Bandung Makuta

Kue kekinian yang satu ini punya jargon “ini teh ngangenin“. Seberapa bikin rindu sih? Menurut saya pribadi, so so rasanya. Bentuknya kotak, semacam mangkok pastry terus diisi cake di atasnya. Saya mencoba rasa lemon dan keju. Pastry-nya renyah dan ngga terlalu manis. Untuk cake nya sendiri, menurut saya sih kurang empuk. Rasanya? Dari skala 1 sampai 10, buat saya 7. Ini masalah selera sih ya, mungkin nilai bisa naik kalau yang saya coba double cheese secara belakangan ini saya lagi keranjingan makanan berbau keju 🙂

20170523_205058.jpg
makuta rasa lemon

Di awal kemunculannya, Bandung Makuta ini sukses membuat heboh. Terbukti dengan ramainya jasa titip beli kue sampai antrian yang panjang. Saya pun bisa nyicip Makuta berkat teman yang juga menggunakan jasa titip. Belakangan di Bandung muncul Bandung Kanaya punya keluarga Mama Amy plus Princess Cake-nya Syahrini. Nampaknya persaingan kue kekinian di Bandung mulai hangat dan yang pasti makin banyak pilihan buat pembeli.

2. Jogja Scrummy

Jogja Scrummy punya Dude Herlino ini sudah ada jauh sebelum gencarnya “serangan” kue kekinian di instagram. Pertama kali saya membeli cake ini di outlet Jalan Kaliurang. Kebetulan saya membeli di luar musim liburan. Waktu itu stoknya banyak dan tokonya pun relatif sepi. Tapi saat liburan April lalu, adik saya ke outet Scrummy dan pembelian dibatasi dua kotak per pembeli. Itupun dengan stok dan pilihan rasa yang terbatas.

20170523_210602.jpg
scrummy dan carrot cake

Read more

.1006.

.1006.

20170610_063859.jpg

Tidak ada yang berbeda dari 10 Juni. Waktu tetap 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik. Yang membedakan hanya doa yang semakin komplit dan waktu berdoa yang lebih lama. Rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Alloh SWT sampai hari ini. Tidak lupa permohonan agar dikaruniai usia yang panjang dan penuh manfaat, tercapainya cita-cita dan harapan, diberikan kesehatan yang paripurna serta hidup yang penuh keberkahan. Semoga doa-doa itu diijabah Yang Maha Kuasa, aamiin. Dear myself, happy birthday 🙂

Syukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugrah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpah

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

Jika ada penghargaan bulan terfavorit di 2017 saya memilih April sebagai pemenangnya. Alasannya sederhana, April memberi 3 kali long weekend berturut-turut. Alhamdulillah di long weekend tanggal 22 kemarin saya akhirnya bisa ketemuan dengan teman kos Bandung. Jadi ceritanya, pas penempatan Bandung saya satu kos dengan tiga teman kantor; Caya, Sri dan Shasha. Dan karena ngga ada yang pasti di dunia kerja selain pindah, maka berpencarlah kami sekarang menyisakan Shasha yang masih setia dengan Bandung.

Sabtu itu meeting point kami adalah Stasiun Bekasi. Biar gampang, saya memulai perjalanan dari Sukabumi dengan kereta. Sampai di Bogor lanjut KRL dan janjian dengan Sri di Pondok Cina terus lanjut KRL lagi sampai Bekasi. Shasha diantar abang gojek dari terminal Bekasi ke stasiun. Kami bertiga dijemput Caya dan suaminya. And guess what, saya berangkat dari Sukabumi jam 5.15 dan baru sampai di rumah Caya sekitar jam 2 siang. Kesimpulan pertama kami adalah istilah tua di jalan itu bukan sekedar isapan jempol.

20170520_134327.jpg
reuni

Pulang dari rumah Caya, kami ikut Sri ke Depok. Cek list sudah Bogor, Bekasi dan Depok. Kami bertiga punya agenda ke BBW di ICE Tangerang. Buat pecinta buku, BBW atau big bad wolf books memang surga. Gimana nggak, buku-buku berkualitas dijual dengan harga miring. Nggak heran walaupun dibuka 24 jam BBW tetap penuh. Untungnya, pas kemarin kami ke sana ngga terlalu berdesakan dan antrian pembayaran pun ngga lama. Tahun depan kalau ada BBW lagi saya pengen datang lagi. Mungkin sambil buka jasa titip?

Ada beberapa buku yang saya cari di BBW sebenarnya. Buku travelling dan kerajinan. Sayangnya saya ngga dapat buku incaran. Alhasil saya lebih banyak melihat dan mengamati pengunjung BBW. Kapling paling ramai adalah box buku anak. Porsi buku anak di BBW memang cukup besar dan banyak peminat. Termasuk Sri, yang khusus ke BBW buat beli buku anak dan Shasha yang ikutan meramaikan lapak buku anak karena dititip Caya. Selanjutnya yang ramai lagi lapak novel dan buku-buku fiksi. Untung kemarin masih kuat iman buat ngga ngangkut set Wimpy Kid dan cukup senang membawa pulang buku Life Traveler.

Selesai belanja buku di BBW, saya dan Shasha memilih naik KRL ke Jakarta. Sri dan keluarganya masih lanjut nge-mall di AEON. Pilihan untuk ngga langsung balik ke Sukabumi dan Bandung adalah opsi terbaik. Kebayang capeknya kalau nekat balik sore itu juga. Dari ICE saya memesan angkutan online Grab sampai stasiun Serpong. Ngobrol-ngobrol dengan drivernya, ternyata si Bapak adalah orang Jakarta dan ngga ngerti daerah Serpong sama sekali. Secara penumpang dan driver sama-sama ngga tahu arah kami mengandalkan Google map. Lucu deh kalau diingat, karena kami tetap nyasar meskipun sudah pakai panduan. Untung bapak driver sabar dan setelah tahu kami mau ke Jakarta malah nawarin buat naik grabnya sampai Jakarta. Biaya tol ditanggung pak driver dan kami cukup bayar sesuai tarif grab. Tapi, ehem, secara kami irit sedang berhemat, KRL tetap opsi terbaik. Hehehe.

dsc_3511.jpg
salah satu “sponsor”

Di Jakarta saya dan Shasha menginap di daerah Dukuh Atas. Cerita grab terulang kembali. Dari Tanah Abang ke Dukuh Atas, bapak driver juga ngga tahu musti lewat mana. Dan kami kembali muter-muter walaupun sudah mengikuti google map. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.

Dipikir-pikir, sukses acara long weekend kali ini turut disponsori KRL dan angkutan online. Ngga heran kalau sekarang dibangun MRT dan LRT. Alat transportasi yang cepat dan bisa ngangkut banyak memang mutlak bagi Jakarta dan kota penopang di sekitarnya. Lha, terus angkutan online Nit? Perlu juga. Salah satunya untuk yang “baru pertama” ke suatu tempat dan masih bingung harus naik angkutan umum apa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ngumpul lagi. Mungkin kamu mau ikutan mensponsori transportasinya? Hehe.