.1006.

.1006.

20170610_063859.jpg

Tidak ada yang berbeda dari 10 Juni. Waktu tetap 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik. Yang membedakan hanya doa yang semakin komplit dan waktu berdoa yang lebih lama. Rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Alloh SWT sampai hari ini. Tidak lupa permohonan agar dikaruniai usia yang panjang dan penuh manfaat, tercapainya cita-cita dan harapan, diberikan kesehatan yang paripurna serta hidup yang penuh keberkahan. Semoga doa-doa itu diijabah Yang Maha Kuasa, aamiin. Dear myself, happy birthday šŸ™‚

Syukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugrah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpah

Iklan
.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

Jika ada penghargaan bulan terfavorit di 2017 saya memilih April sebagai pemenangnya. Alasannya sederhana, April memberi 3 kali long weekend berturut-turut. Alhamdulillah di long weekend tanggal 22 kemarin saya akhirnya bisa ketemuanĀ dengan teman kos Bandung. Jadi ceritanya, pas penempatan Bandung saya satu kos dengan tiga teman kantor; Caya, Sri dan Shasha. Dan karena ngga ada yang pasti di dunia kerja selain pindah, maka berpencarlah kami sekarang menyisakan Shasha yang masih setia dengan Bandung.

Sabtu itu meeting point kami adalah Stasiun Bekasi. Biar gampang, saya memulai perjalanan dari Sukabumi dengan kereta. Sampai di Bogor lanjut KRL dan janjian dengan Sri di Pondok Cina terus lanjut KRL lagi sampai Bekasi. Shasha diantar abang gojek dari terminal Bekasi ke stasiun. Kami bertiga dijemput Caya dan suaminya. And guess what, saya berangkat dari Sukabumi jam 5.15 dan baru sampai di rumah Caya sekitar jam 2 siang. Kesimpulan pertama kami adalah istilah tua di jalan itu bukan sekedar isapan jempol.

20170520_134327.jpg
reuni

Pulang dari rumah Caya, kami ikut Sri ke Depok. Cek list sudah Bogor, Bekasi dan Depok. Kami bertiga punya agenda ke BBW di ICE Tangerang. Buat pecinta buku, BBW atau big bad wolf books memang surga. Gimana nggak, buku-buku berkualitas dijual dengan harga miring. Nggak heran walaupun dibuka 24 jam BBW tetap penuh. Untungnya, pas kemarin kami ke sana ngga terlalu berdesakan dan antrian pembayaran pun ngga lama. Tahun depan kalau ada BBW lagi saya pengen datang lagi. Mungkin sambil buka jasa titip?

Ada beberapa buku yang saya cari di BBW sebenarnya. Buku travelling dan kerajinan. Sayangnya saya ngga dapat buku incaran. Alhasil saya lebih banyak melihat dan mengamati pengunjung BBW. Kapling paling ramai adalah box buku anak. Porsi buku anak di BBW memang cukup besarĀ dan banyak peminat. Termasuk Sri, yang khusus ke BBW buat beli buku anak dan Shasha yang ikutan meramaikan lapak buku anak karena dititip Caya. Selanjutnya yang ramai lagi lapak novel dan buku-buku fiksi. Untung kemarin masih kuat iman buat ngga ngangkut set Wimpy Kid dan cukup senang membawa pulang buku Life Traveler.

Selesai belanja buku di BBW, saya dan Shasha memilih naik KRL ke Jakarta. Sri dan keluarganya masih lanjut nge-mall di AEON. Pilihan untuk ngga langsung balik ke Sukabumi dan Bandung adalah opsi terbaik. Kebayang capeknya kalau nekat balik sore itu juga. Dari ICE saya memesan angkutan online Grab sampai stasiun Serpong. Ngobrol-ngobrol dengan drivernya, ternyata si Bapak adalah orang Jakarta dan ngga ngerti daerah Serpong sama sekali. Secara penumpang dan driver sama-sama ngga tahu arah kami mengandalkan Google map. Lucu deh kalau diingat, karena kami tetap nyasar meskipunĀ sudah pakai panduan. Untung bapak driver sabar dan setelah tahu kami mau ke Jakarta malah nawarin buat naik grabnya sampai Jakarta. Biaya tol ditanggung pak driver dan kami cukup bayar sesuai tarif grab. Tapi, ehem, secara kami irit sedang berhemat, KRL tetap opsi terbaik. Hehehe.

dsc_3511.jpg
salah satu “sponsor”

Di Jakarta saya dan Shasha menginap di daerah Dukuh Atas. Cerita grab terulang kembali. Dari Tanah Abang ke Dukuh Atas, bapak driver juga ngga tahu musti lewat mana. Dan kami kembali muter-muter walaupun sudah mengikuti google map. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.

Dipikir-pikir, sukses acara long weekend kali ini turut disponsori KRL dan angkutan online. Ngga heran kalau sekarang dibangun MRT dan LRT. Alat transportasi yang cepat dan bisa ngangkut banyak memang mutlak bagi Jakarta dan kota penopang di sekitarnya. Lha, terus angkutan online Nit? Perlu juga. Salah satunya untuk yang “baru pertama” ke suatu tempat dan masih bingung harus naik angkutan umum apa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ngumpul lagi. Mungkin kamu mau ikutanĀ mensponsori transportasinya? Hehe.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

Deg-degan. Itulah yang saya rasakan sebelum mengikuti kelas inspirasi Sukabumi 2. Kali ini deg-degannya bukan karena bingung gimana cara ngenalin profesi ke anak SD seperti KI Bandung 3 dan KI Bandung 4 tapi lebih ke persiapan kelompok sebelum mengajar. Gimana nggak, saat briefing dari 14 relawan pengajar hanya empat yang datang plus tidak ada dokumentator yang hadir. Memang, salah satu tantangan KI Sukabumi adalah mayoritas relawannya tinggal di luar Sukabumi. Termasuk di kelompok saya. Dari total 17 orang, yang sehari-hari di Sukabumi cuma saya sendiri. Jadilah segala koordinasi dilakukan lewat grup whatsapp.

DSCF5612
tim WA šŸ™‚

Kelompok kamiĀ beruntung karena ada dua fasilitator yang menjadi pemandu di grup dan banyak membantu tugas yang harusnya dikerjakan olehĀ kami, relawan inspirator dan dokumentator. Jadwal mengajar, acara pembukaan dan penutupan, desain spanduk, konsumsi hingga papan cita-cita untuk siswa dan pernak pernik lain kami putuskan via diskusi di grup WA. Inilah pelajaran pertama dari KI Sukabumi yaitu belajar komunikasi yang efektif dan negosisasi.Ā Gimana caranya keputusan bisa diambil tanpa bertemu dan bisa diterima dengan baik oleh seluruh anggota grup.

DSCF4848
pembukaan

Sampai dengan hari H, terkonfirmasi enam relawan pengajar dan dua dokumentator. Sesuai pembagian sekolah, kami mengajar di MI Azzahidiyah. Kelompok saya bersepakat untuk mengajar kelas 1 sampai 6. Kalau boleh jujur saya lebih milih ngajar kelas 3 sampai 6 saja. Ngga tahu kenapa rasanya takut mau masuk kelas 1 dan 2. Ternyata dari hasil pembagian saya mendapat kelas 5, 2 dan 4. Ā Mau ngga mau saya harus menerima tugas ini dan belajar untuk berani menerima tantangan sertaĀ keluar dari zona nyaman. Setelah pembagian kelas dan persiapan kelompok selesai, barulah saya memikirkan cara mengajar dan materi yang saya butuhkan. Berbeda dengan profesi sebelumnya di bagian SDM, pekerjaan sekarang di bagian K3 sebenarnya lebih mudah dijelaskan. Jadilah segala brosur dan foto yang ada kaitannya sama kerjaan saya potong dan tempel untuk bahan ajar.

Kismi 1
tempel sana sini

Read more

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

Weekend ini ke Bandung lagi mbak? Belakangan kalimat ini menjadi pertanyaan paling sering saya terima. Kalau jawabannya iya, biasanya dilanjut dengan belum move on ya mbak? Kalau dijawab engga, ditimpali dengan tumben. Sebenarnya ngga ada yang spesial dengan berakhir pekan di Bandung kecuali keberadaan teman-teman saya mungkin (boleh GR kalian, hehe). Makanya pas Januari lalu main ke Bandung, saya bingung mau ke mana. Mal? Pasar Baru? Taman? Hmmm kok rasa-rasanya males. Entah kenapa kemarin pengen banget baca-baca buku di perpus. Perpustakaan Jabar di Kawaluyaan itu nyaman banget, sayang jauh dan tutup di hari Minggu. Akhirnya tujuan berbelok ke taman bacaan. Taman bacaan? Yup, tempat dimana kita bisa menyewa buku. Zaman saya kuliah dulu saya pelanggan taman bacaan lho, lumayan lebih hemat daripada beli buku atau majalah sendiri. Di Bandung ada beberapa taman bacaan, salah satunya Pitimoss. Selain Pitimoss, saya pernah juga ke Zoe di jalan Dipati Ukur.

dsc_2826.jpg
pitimoss

Saya bersama Koff sampai di Pitimoss jam setengah 10 pagi. Tempatnya ada di Jalan Banda. Sepertinya kami adalah pengunjung pertama hari itu. Ketika sampai, di sana masih sepi dan mbak yang jaga baru selesai bersih-bersih. Pilihan buku di Pitimoss lumayan lengkap dan update. Pencarian buku pun sudah terkomputerisasi. Buku terbaru Adhitya Mulya, Bajak Laut & Purnama Terakhir menjadi incaran saya. Sayang bukunya sedang dipinjam. Alhasil saya beralih ke buku Dewi Lestari. Dari sederet buku Dee, saya memilih Madre karena cukup ā€œtipisā€ untuk dibaca di tempat.

dsc_2825.jpg
memilih buku

Ternyata ada hikmah ke Pitimoss di hari Minggu yaitu gratis baca buku di tempat. Langsung nyesel kenapa cuma ambil satu buku.Ā Tempat baca di Pitimoss ada di bagian belakang. Tersedia kursi-kursi kayu yang cukup nyaman untuk duduk. Saya dan Koff menghabiskan sekitar tiga jam di Pitimoss. Selesai dari sini, kami melanjutkan ke Gramedia Merdeka.

20170304_224943.jpg
let’s read

Sebenarnya saya ngga berniat beli buku karena memang goal tahun ini membaca buku yang sudah dibeli dengan target Ā minimal satu bulan satu buku. Jadi main ke Gramedia ini sekedar untuk melihat-lihat dan numpang baca. Ternyata hari itu di Gramedia sedang ada bincang buku bersama pak Bondan Winarno. Yup, pak Bondan maknyus yang suka icip-icip itu. Kebetulan yang menyenangkan. Mulanya saya mengira yang dibahas adalah buku wisata kuliner atau yang masih berhubungan dengan makanan. Namun rupanya buku yang dibincangkan adalah kumpulan cerpen pak Bondan berjudul Petang Panjang di Central Park.

dsc_2828.jpg
bincang buku

Read more

.(p)indah.

.(p)indah.

20170304_181910.jpg
pesan buat yang p–indah

Barangkali yang pasti di dunia kerja itu cuma dua. Kalau ngga berhenti kerja ya pindah. Mulai dari pindah ruangan, pindah divisi, pindah jabatan, pindah kota dan pindah-pindah yang lain. Saya pun mengalaminya Desember lalu. Smooth? Ngga pakai drama? Sayangnya pakai dikit. Hahaha, bukan drama dengan siapa atau apa tapi lebih ke drama dengan diri sendiri.

Masa-masa mendekati pindah itu, saya dikuasai oleh pikiran-pikiran yang ngga penting. Gimana ya nanti di tempat baru? Gimana kerjaannya? Terus seperti apa lingkungannya? Dan sederet pertanyaan lain yang setelah saya pikirkan lagi kok terasa berlebihan. Sukabumi, tempat saya pindah ini sebenarnya ngga 100% tempat asing buat saya. Enam tahun lalu saya pernah OJT di sini. Hanya saja lima tahun di Bandung terlanjur membuat saya nyaman dan susah move on. Saking belum move on nya, banyak yang mengira rumah saya di Bandung. Gimana nggak, akhir pekan lebih sering saya habiskan di luar Sukabumi. Kalau ngga ke Bandung ya ke Bogor. Selama hampir 3 bulan ini, rasanyaĀ baru 3 atau 4 weekend saya habiskan di Sukabumi. Selain alasan Diklat, rapat, acara kantor yang sudah lama dijadwalkan, ada juga sih yang memang sengaja main. Jadi ya tipis-tipislah antara belum move on sama memanfaatkan situasi šŸ™‚

Satu hal yang patut disyukuri dari manusia adalah kemampuan beradaptasi. Bagaimanapun, pindah ini membuat saya belajar (lagi) tentang menyesuaikan diri baik dengan lingkungan maupun pekerjaan. Sejauh ini saya bersyukur karena pindah berarti menambah teman dan sahabat baru tanpa perlu kehilangan sahabat lama. Saya memang tidak bisa bertemu teman-teman di Bandung semudah dulu tapi sahabat saya mbak Eka pernah bilang gini, Ā jarak kita kan sedekat WA. Bener juga sih. Kalau kangen ya tinggal kirim pesan di WhatsApp. Pengen sharing sesuatu ya tinggal video call aja.

Perkara lainĀ yang perlu penyesuaian adalah pekerjaan. Belajar pekerjaan baru itu menantang namun melepaskan pekerjaan lama ternyata juga ngga kalah menantang. Fase ā€œmewariskanā€ pekerjaan dan menahan diri untuk tidak mengomentari cara kerja, strategi, atau apapun yang dilakukan olehĀ orang yang meneruskan pekerjaan lama kita ternyata perlu usaha juga. Saya jadi ingat waktu dulu jadi pegawai baru, mungkin begini juga yang dirasakan pegawai senior yang mengajari saya. Hidup memang selalu begitu ya, selalu muter dan tidak ada yang pasti. Dan karena hidup juga harus berjalan apapun yang terjadi, saya berusaha punya pikiran yang positif biar pindah menjadi sebuah petualangan indah.

Ngomong-ngomong, ada yang punya cerita seru seputar pindah? Boleh banget lho di share di komentar .