.Menikmati Akhir Pekan Seru di Galeri Indonesia Kaya.

Jakarta dan mal adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Beberapa kali berakhir pekan di ibukota, saya hampir selalu memasukkan mal sebagai tempat wajib kunjung dan salah satunya adalah mal Grand Indonesia. Sabtu, 2 Maret lalu mungkin ketiga kalinya saya main ke Grand Indonesia. Belakangan baru saya tahu kalau selain tempat belanja dan makan, di GI juga ada Galeri Indonesia Kaya. Galeri ini terletak di lantai 8 West Mall GI dekat dengan bioskop CGV dan mushola.

20190302_165541.jpg

Galeri Indonesia Kaya

Siang itu saya iseng saja mampir ke Galeri Indonesia Kaya. Di pintu masuk, ada petugas yang memberikan leaflet dan mempersilakan masuk. Sebenarnya galeri ini tidak terlalu luas, namun tempatnya nyaman dan banyak hal terkait budaya Indonesia yang ditampilkan secara menarik melalui komputer layar sentuh (touch screen). Mengutip informasi dari website resmi galeri,  dari layar tersebut kita bisa belajar tentang kuliner, kesenian, tradisi, asal usul dan alat musik tradisional. Saya sempat mencoba memainkan kolintang melalui layar komputer yang terpasang dan membaca informasi seputar kuliner khas di Nusa Tenggara. Selain informasi melalui layar interaktif, ada satu spot menarik lainnya yaitu tempat merancang kartu pos bermotif batik. Pengunjung bisa memilih motif batik yang diinginkan dan mencetaknya. Sayang, kemarin printer pencetak kartu pos sedang rusak sehingga kartu pos hasil kreasi saya tidak bisa dicetak.

20190302_141606.jpg

lorong masuk

20190302_141227.jpg

layar interaktif

20190302_142252.jpg

buat sendiri kartu posmu

Selesai keliling dan mencoba mendesain kartu pos, saya duduk menikmati suasana galeri. Saat itulah datang petugas dan menanyakan apakah saya ingin melihat pementasan seni. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan tawaran tersebut. Usut punya usut, selama bulan Maret sampai pertengahan April, Galeri Indonesia Kaya menggelar pementasan seni setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 15.00. Kebetulan saat itu yang mendapat jadwal pementasan adalah kelompok Fat Velvet dari Bandung. Mereka menampilkan judul Ontologi Dedes.

20190302_153844.jpg

Fat Velvet in action

20190302_161954.jpg

ngobrol setelah pentas

Baca lebih lanjut

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

.Donor Darah Yuk!.

20181115_193228.jpg

my blood my… ya my blood lah 🙂

There is always a first time for everything. Yup. Selalu ada yang pertama dalam hidup. Termasuk untuk saya sesederhana donor darah. Sedikit cerita, di kantor donor darah rutin dilakukan setiap 3 bulan. Dari masuk kerja sampai sekarang kira-kira udah lebih dari 20 kali donor darah dilakukan. Dan saya belum pernah sekalipun ikut. Soalnya berat badan saya selalu nyaris dengan batas minimal pendonor. Dan percayalah bukan cuma orang yang punya berat badan berlimpah yang sering kena bully yang kurus pun ngga jarang kena body shaming juga lho kok malah curhat.

Anyway setelah sekian kali dapat kata-kata “Udah makan yang banyak dulu baru donor” akhirnya bulan ini saya berhasil donor. Alhamdulillah. Sebenarnya saya juga ngga merencanakan mau donor. Tujuan saya datang adalah buat ikutan penyuluhan kesehatan. Tapi melihat antrian yang sepi saya iseng saja menimbang badan. Eh ternyata dari sekian bulan lalu berat badan ngga turun dan bisa buat donor. Akhirnya diperiksa tekanan darah dan hemoglobin. Dan lolos buat menyumbang darah.

Gimana rasanya setelah disuruh tiduran dan siap diambil darah? Takut dan deg-degan. Petugas PMI meminta saya untuk rileks dan dia mulai menusukkan jarum di lengan. Setelah itu dipasang deh kantong. Dan proses donor darah pun dimulai. Sakitnya persis seperti sakit disuntik. Sekitar 30 menit kemudian, kantong ukuran 350 ml terisi penuh. Rasa sakit dari proses pencabutan jarum sendiri masih bisa ditahan, sama aja kaya pas dipasang.

Setelah selesai diambil darah, petugas meminta saya untuk berbaring dulu dan tidak langsung bangun. Alhamdulillah ngga ada rasa pusing atau lainnya. Setelah donor pun saya bisa beraktivitas seperti biasa. Tentunya bukan aktivitas berat ya.

Nah, baca-baca dari website PMI kebutuhan akan darah ini memang tinggi. Setiap 8 detik ada 1 orang yang membutuhkan transfusi darah. Jadi yang belum pernah donor atau merasa takut, yuk cobain. At least niat dulu deh. Kalaupun setelah timbang, cek tekanan darah dan cek Hb ngga bisa donor seenggaknya kita jadi tahu kondisi kita dan niat berbuat baiknya insyaallah sudah dinilai menjadi pahala.

Jadi, sudah siapkah kamu mendonorkan darah?

.Jouska Talks: Ngomongin Keuangan Bareng Minjou.

20181103_093725.jpg

JTalks’s sign

Hai, ada yang follow instagram Jouska? Saya yakin sebagian pengguna instagram yang seneng bahasan tentang keuangan mengikuti akun instagram satu ini. Jouska adalah financial adviser mandiri yang belakangan hits banget di instagram. Mungkin ada yang kecanduan sama story dan QnA dari minjou alias admin Jouska yang seru dan bikin penasaran? Sambil mikir, ya ampun ada ya yang kaya gini di Indonesia. Punya gaji sekian puluh juta tapi habis di beli kopi? Follower Jouska pasti juga tahu kalau mereka punya beberapa acara yang berhubungan dengan keuangan antara lain Jouska Talks yang selanjutnya kita sebut JTalks dan Stockgasm. Sederhananya kalau Jtalks semacam ndengerin dan ngobrol masalah keuangan sementara Stockgasm khusus ngomongin saham.

Sejujurnya, saya maju mundur mau ikut JTalks atau tidak. Pada dasarnya saya memang seneng baca-baca tentang financial planning tapi suka denial kalau lihat angka yang tidak sesuai harapan. Akhirnya saya memantapkan diri untuk ikut JTalks di Jakarta pas tanggal 3 November kemarin. Dipikir-pikir emang rada niat naik kereta dari Sukabumi cuma buat acara JTalks yang berlangsung 4 jam saja. Sesuai email dari Jouska, ada 3 agenda yang dibahas. Pertama tentang financial planning, kedua tentang investasi dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Tulisan ini bakalan panjang banget karena emang yang dibahas di JTalks meskipun diselingi candaan, sangat berisi dan bagus buat diketahui banyak orang.

Sesuai dengan rundown acara, JTalks dimulai tepat waktu. Salut deh, Jouska beneran anti ngaret ngaret klub. Sesi financial planning dipandu oleh Farah Dini, advisor sekaligus co-founder Jouska. Mbak Farah bilang bahwa yang terpenting itu bukan jumlah penghasilan yang kita dapat melainkan bagaimana kita mengelola penghasilan. Gaji 40 juta minus juga banyak namun bergaji 5 juta dan bisa punya tabungan juga ada.

20181103_112514.jpg

Mas Aakar founder Jouska

Di sesi ini, mbak Farah menjelaskan bahwa sebelum kita nentuin mau ini itu, investasi ke sana sini yang pertama mesti kita tahu adalah kondisi keuangan saat ini alias current financial statement. Dalam current financial statement, ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu aset, utang dan cashflow alias aliran keluar masuknya uang. Mulai di sini udah ada PR bagi peserta yaitu mengevaluasi kondisi keuangan masing-masing. Hehehe. Caranya gimana? Mulai dari mendata aset. Aset terdiri dari aset lancar (aset yang gampang cair misalnya tabungan) kemudian aset guna yaitu barang yang kita gunakan sendiri misal kendaraan atau rumah dan yang terakhir aset investasi. Duh, baru dari aset aja udah mulai pusing dan kepikiran walaupun menurut mbak Farah untuk usia sampai 35 tahun masih wajar bila kepemilikan aset guna lebih banyak. Tapi seiring waktu, yang harus semakin besar adalah aset investasi.

Setelah mendata aset, selanjutnya adalah mendata utang-utang yang dipunyai. Dari total aset dikurangi utang, bakalan muncul angka kekayaan bersih alias net worth kita. Terus setelah tahu net worth, kita juga musti tahu alur kas alias cashflow. Berapa jumlah pemasukan dan kemana aja uang itu kita belanjakan harus banget kita tahu. Jadi ngga ada cara lain selain nyatet. Ini memang PR banget ya tapi dengan mencatat kita bakalan tahu kalau ada “bocor halus” atau latte factor dalam pengeluaran kita. Yang paling penting buat diingat dalam mengatur pengeluaran adalah pay yourself first alias harus bayar diri sendiri pada kesempatan pertama. Caranya? Sisihkan tabungan dan investasi di awal. Kalau sulit, buat semua otomatis. Jangan sampai hasil kerja keras kita malah justru ngga ada manfaatnya buat hidup kita di masa depan.  Baca lebih lanjut

.Hari Listrik: Prestasi Nyata Terangi Indonesia.

IMG-20181026-WA0017.jpg

PDKB (Pekerjaan Dalam Kondisi Bertegangan) photo by Dimas

Tidak pernah saya menganggap 27 Oktober sebagai hari yang istimewa. Sampai delapan tahun lalu, ketika saya bergabung dengan perusahaan yang memiliki motto “Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik”. Tak ada di benak saya bahwa saya akan ada perusahaan ini, menjadi bagian yang selalu diingat saat padam walaupun hanya 5 menit namun menjadi bagian dari yang terlupakan saat 23 jam 55 menit dalam keadaan terang.

Ada satu hal yang membuat saya begitu terharu dan merinding sejak masuk perusahaan ini sampai sekarang. Yaitu setiap kali menyanyikan Mars PLN dan sampai pada lirik yang berbunyi menyediakan listrik ke seluruh pelosok tanah air serta layani kebutuhan kota dan pedesaan. Pikiran saya langsung terbayang ke pekerjaan teman-teman di lapangan saat terjadi gangguan. Juga ke desa yang jauh sekali hingga membuat badan terguncang-guncang dan perut mual saat menuju ke sana. Bayangkan jika tidak ada yang rela berpeluh, berjalan jauh sampai ke pelosok sana mungkin tidak akan sampai informasi terkini, tidak akan ada komunikasi melalui telepon genggam.

Lalu baru-baru ini ketika terjadi bencana Palu dan Donggala. Sungguh haru melihat teman-teman PLN Jawa Barat menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Sulawesi untuk membantu mempercepat pulihnya kelistrikan di sana. Rasanya nyess di hati melihat video seorang teman yang mengabadikan kegembiraan warga saat listrik di desanya berhasil dinyalakan.

Dear PLN tercinta, selamat hari listrik ke-73. Apapun tantangan yang terjadi ke depan tetaplah menjadi perusahaan yang berkontribusi memberikan kehidupan yang lebih baik.

Majulah PLN untuk selamanya, jayalah PLN untuk selamanya

.Jepang: 4 tahun berlalu & rindu yang menggebu.

Beberapa bulan lalu, teman saya mengirim pesan whatsapp. Katanya dia tertarik pergi ke Jepang. Ada paket wisata ke Tokyo yang menurutnya murah. Dia meminta pendapat saya. Saya katakan Jepang itu bagus. Kalau itinerary tur memang cocok, ikut saja. Kemudian dia bertanya, tempat apa saja yang saya datengin waktu main ke Jepang? Duh, pikiran saya langsung bernostalgia. Mengembara (ceileh) ke Juni 2014 ketika saya menginjakkan kaki ke “rumah” Shinici Kudo.

Keinginan ke luar negeri sebenarnya sudah ada sejak kuliah. Masa itu saya sering lihat iklan Air Asia yang menawarkan tiket seharga 0 rupiah. Sayangnya, selama kuliah keinginan itu tidak terwujud. Jadi ketika diterima kerja, saya membuat list negara yang ingin saya datangi. Masih ingat betul, saya menuliskan Singapura dan Korea Selatan. Sudah pasti pilihan negara kedua adalah hasil menonton drama Korea sejak zaman SMP. Lalu waktu berlalu, saya malahan pergi umroh terlebih dahulu. Baru di tahun 2014 saya mencoret Singapura dari list. Mustinya setelah Singapura, saya ke Korsel kan? Namun entah kenapa waktu itu saya beralih ke Jepang. Barangkali karena saya tergoda cerita-cerita dari blog yang saya singgahi. Kebanyakan blog menceritakan serunya backpackeran ke Jepang. Dari sini, mulailah saya meracuni Shasa untuk mengalihkan tujuan traveling. Keraguan Shasa ketika saya ajak ke Jepang adalah masalah komunikasi. Selain itu konon biaya penginapan dan transportasi Jepang mahal. Hal ini makin menyiutkan nyali. Akhirnya setelah khawatir ini itu, kami membeli juga tiket ke Jepang. Horeee, konichiwa Tokyo 🙂

20180730_185726.jpg

di Bandara Chubu

CAM00530.jpg

menuju kota Nagoya

Setelah mencari tiket yang sesuai dengan tanggal dan anggaran kami, dengan sedih kami harus mencoret pesawat tujuan Tokyo. Kelamaan mikir membuat harga tiket tujuan Tokyo melambung melebihi anggaran yang saya dan Shasa punya. Akhirnya kami putuskan membeli tiket pulang terlebih dahulu. Kami memutuskan pulang dari Osaka. Setelah menunggu, ternyata harga tiket ke Tokyo tidak kunjung bersahabat dan berakhir dengan kami membeli tiket tujuan Nagoya. Jadi rute kami waktu itu Nagoya – Tokyo – Kyoto – Osaka. Baca lebih lanjut