.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

.Jabodetabek, BBW 2017 & kisah dalam perjalanan.

Jika ada penghargaan bulan terfavorit di 2017 saya memilih April sebagai pemenangnya. Alasannya sederhana, April memberi 3 kali long weekend berturut-turut. Alhamdulillah di long weekend tanggal 22 kemarin saya akhirnya bisa ketemuan dengan teman kos Bandung. Jadi ceritanya, pas penempatan Bandung saya satu kos dengan tiga teman kantor; Caya, Sri dan Shasha. Dan karena ngga ada yang pasti di dunia kerja selain pindah, maka berpencarlah kami sekarang menyisakan Shasha yang masih setia dengan Bandung.

Sabtu itu meeting point kami adalah Stasiun Bekasi. Biar gampang, saya memulai perjalanan dari Sukabumi dengan kereta. Sampai di Bogor lanjut KRL dan janjian dengan Sri di Pondok Cina terus lanjut KRL lagi sampai Bekasi. Shasha diantar abang gojek dari terminal Bekasi ke stasiun. Kami bertiga dijemput Caya dan suaminya. And guess what, saya berangkat dari Sukabumi jam 5.15 dan baru sampai di rumah Caya sekitar jam 2 siang. Kesimpulan pertama kami adalah istilah tua di jalan itu bukan sekedar isapan jempol.

20170520_134327.jpg
reuni

Pulang dari rumah Caya, kami ikut Sri ke Depok. Cek list sudah Bogor, Bekasi dan Depok. Kami bertiga punya agenda ke BBW di ICE Tangerang. Buat pecinta buku, BBW atau big bad wolf books memang surga. Gimana nggak, buku-buku berkualitas dijual dengan harga miring. Nggak heran walaupun dibuka 24 jam BBW tetap penuh. Untungnya, pas kemarin kami ke sana ngga terlalu berdesakan dan antrian pembayaran pun ngga lama. Tahun depan kalau ada BBW lagi saya pengen datang lagi. Mungkin sambil buka jasa titip?

Ada beberapa buku yang saya cari di BBW sebenarnya. Buku travelling dan kerajinan. Sayangnya saya ngga dapat buku incaran. Alhasil saya lebih banyak melihat dan mengamati pengunjung BBW. Kapling paling ramai adalah box buku anak. Porsi buku anak di BBW memang cukup besar dan banyak peminat. Termasuk Sri, yang khusus ke BBW buat beli buku anak dan Shasha yang ikutan meramaikan lapak buku anak karena dititip Caya. Selanjutnya yang ramai lagi lapak novel dan buku-buku fiksi. Untung kemarin masih kuat iman buat ngga ngangkut set Wimpy Kid dan cukup senang membawa pulang buku Life Traveler.

Selesai belanja buku di BBW, saya dan Shasha memilih naik KRL ke Jakarta. Sri dan keluarganya masih lanjut nge-mall di AEON. Pilihan untuk ngga langsung balik ke Sukabumi dan Bandung adalah opsi terbaik. Kebayang capeknya kalau nekat balik sore itu juga. Dari ICE saya memesan angkutan online Grab sampai stasiun Serpong. Ngobrol-ngobrol dengan drivernya, ternyata si Bapak adalah orang Jakarta dan ngga ngerti daerah Serpong sama sekali. Secara penumpang dan driver sama-sama ngga tahu arah kami mengandalkan Google map. Lucu deh kalau diingat, karena kami tetap nyasar meskipun sudah pakai panduan. Untung bapak driver sabar dan setelah tahu kami mau ke Jakarta malah nawarin buat naik grabnya sampai Jakarta. Biaya tol ditanggung pak driver dan kami cukup bayar sesuai tarif grab. Tapi, ehem, secara kami irit sedang berhemat, KRL tetap opsi terbaik. Hehehe.

dsc_3511.jpg
salah satu “sponsor”

Di Jakarta saya dan Shasha menginap di daerah Dukuh Atas. Cerita grab terulang kembali. Dari Tanah Abang ke Dukuh Atas, bapak driver juga ngga tahu musti lewat mana. Dan kami kembali muter-muter walaupun sudah mengikuti google map. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.

Dipikir-pikir, sukses acara long weekend kali ini turut disponsori KRL dan angkutan online. Ngga heran kalau sekarang dibangun MRT dan LRT. Alat transportasi yang cepat dan bisa ngangkut banyak memang mutlak bagi Jakarta dan kota penopang di sekitarnya. Lha, terus angkutan online Nit? Perlu juga. Salah satunya untuk yang “baru pertama” ke suatu tempat dan masih bingung harus naik angkutan umum apa. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa ngumpul lagi. Mungkin kamu mau ikutan mensponsori transportasinya? Hehe.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

.Kelas Inspirasi Sukabumi #2: belajar tiada akhir.

Deg-degan. Itulah yang saya rasakan sebelum mengikuti kelas inspirasi Sukabumi 2. Kali ini deg-degannya bukan karena bingung gimana cara ngenalin profesi ke anak SD seperti KI Bandung 3 dan KI Bandung 4 tapi lebih ke persiapan kelompok sebelum mengajar. Gimana nggak, saat briefing dari 14 relawan pengajar hanya empat yang datang plus tidak ada dokumentator yang hadir. Memang, salah satu tantangan KI Sukabumi adalah mayoritas relawannya tinggal di luar Sukabumi. Termasuk di kelompok saya. Dari total 17 orang, yang sehari-hari di Sukabumi cuma saya sendiri. Jadilah segala koordinasi dilakukan lewat grup whatsapp.

DSCF5612
tim WA 🙂

Kelompok kami beruntung karena ada dua fasilitator yang menjadi pemandu di grup dan banyak membantu tugas yang harusnya dikerjakan oleh kami, relawan inspirator dan dokumentator. Jadwal mengajar, acara pembukaan dan penutupan, desain spanduk, konsumsi hingga papan cita-cita untuk siswa dan pernak pernik lain kami putuskan via diskusi di grup WA. Inilah pelajaran pertama dari KI Sukabumi yaitu belajar komunikasi yang efektif dan negosisasi. Gimana caranya keputusan bisa diambil tanpa bertemu dan bisa diterima dengan baik oleh seluruh anggota grup.

DSCF4848
pembukaan

Sampai dengan hari H, terkonfirmasi enam relawan pengajar dan dua dokumentator. Sesuai pembagian sekolah, kami mengajar di MI Azzahidiyah. Kelompok saya bersepakat untuk mengajar kelas 1 sampai 6. Kalau boleh jujur saya lebih milih ngajar kelas 3 sampai 6 saja. Ngga tahu kenapa rasanya takut mau masuk kelas 1 dan 2. Ternyata dari hasil pembagian saya mendapat kelas 5, 2 dan 4.  Mau ngga mau saya harus menerima tugas ini dan belajar untuk berani menerima tantangan serta keluar dari zona nyaman. Setelah pembagian kelas dan persiapan kelompok selesai, barulah saya memikirkan cara mengajar dan materi yang saya butuhkan. Berbeda dengan profesi sebelumnya di bagian SDM, pekerjaan sekarang di bagian K3 sebenarnya lebih mudah dijelaskan. Jadilah segala brosur dan foto yang ada kaitannya sama kerjaan saya potong dan tempel untuk bahan ajar.

Kismi 1
tempel sana sini

Read more

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

.Minggu seru: antara Pitimoss & buku pak Bondan.

Weekend ini ke Bandung lagi mbak? Belakangan kalimat ini menjadi pertanyaan paling sering saya terima. Kalau jawabannya iya, biasanya dilanjut dengan belum move on ya mbak? Kalau dijawab engga, ditimpali dengan tumben. Sebenarnya ngga ada yang spesial dengan berakhir pekan di Bandung kecuali keberadaan teman-teman saya mungkin (boleh GR kalian, hehe). Makanya pas Januari lalu main ke Bandung, saya bingung mau ke mana. Mal? Pasar Baru? Taman? Hmmm kok rasa-rasanya males. Entah kenapa kemarin pengen banget baca-baca buku di perpus. Perpustakaan Jabar di Kawaluyaan itu nyaman banget, sayang jauh dan tutup di hari Minggu. Akhirnya tujuan berbelok ke taman bacaan. Taman bacaan? Yup, tempat dimana kita bisa menyewa buku. Zaman saya kuliah dulu saya pelanggan taman bacaan lho, lumayan lebih hemat daripada beli buku atau majalah sendiri. Di Bandung ada beberapa taman bacaan, salah satunya Pitimoss. Selain Pitimoss, saya pernah juga ke Zoe di jalan Dipati Ukur.

dsc_2826.jpg
pitimoss

Saya bersama Koff sampai di Pitimoss jam setengah 10 pagi. Tempatnya ada di Jalan Banda. Sepertinya kami adalah pengunjung pertama hari itu. Ketika sampai, di sana masih sepi dan mbak yang jaga baru selesai bersih-bersih. Pilihan buku di Pitimoss lumayan lengkap dan update. Pencarian buku pun sudah terkomputerisasi. Buku terbaru Adhitya Mulya, Bajak Laut & Purnama Terakhir menjadi incaran saya. Sayang bukunya sedang dipinjam. Alhasil saya beralih ke buku Dewi Lestari. Dari sederet buku Dee, saya memilih Madre karena cukup “tipis” untuk dibaca di tempat.

dsc_2825.jpg
memilih buku

Ternyata ada hikmah ke Pitimoss di hari Minggu yaitu gratis baca buku di tempat. Langsung nyesel kenapa cuma ambil satu buku. Tempat baca di Pitimoss ada di bagian belakang. Tersedia kursi-kursi kayu yang cukup nyaman untuk duduk. Saya dan Koff menghabiskan sekitar tiga jam di Pitimoss. Selesai dari sini, kami melanjutkan ke Gramedia Merdeka.

20170304_224943.jpg
let’s read

Sebenarnya saya ngga berniat beli buku karena memang goal tahun ini membaca buku yang sudah dibeli dengan target  minimal satu bulan satu buku. Jadi main ke Gramedia ini sekedar untuk melihat-lihat dan numpang baca. Ternyata hari itu di Gramedia sedang ada bincang buku bersama pak Bondan Winarno. Yup, pak Bondan maknyus yang suka icip-icip itu. Kebetulan yang menyenangkan. Mulanya saya mengira yang dibahas adalah buku wisata kuliner atau yang masih berhubungan dengan makanan. Namun rupanya buku yang dibincangkan adalah kumpulan cerpen pak Bondan berjudul Petang Panjang di Central Park.

dsc_2828.jpg
bincang buku

Read more

.(p)indah.

.(p)indah.

20170304_181910.jpg
pesan buat yang p–indah

Barangkali yang pasti di dunia kerja itu cuma dua. Kalau ngga berhenti kerja ya pindah. Mulai dari pindah ruangan, pindah divisi, pindah jabatan, pindah kota dan pindah-pindah yang lain. Saya pun mengalaminya Desember lalu. Smooth? Ngga pakai drama? Sayangnya pakai dikit. Hahaha, bukan drama dengan siapa atau apa tapi lebih ke drama dengan diri sendiri.

Masa-masa mendekati pindah itu, saya dikuasai oleh pikiran-pikiran yang ngga penting. Gimana ya nanti di tempat baru? Gimana kerjaannya? Terus seperti apa lingkungannya? Dan sederet pertanyaan lain yang setelah saya pikirkan lagi kok terasa berlebihan. Sukabumi, tempat saya pindah ini sebenarnya ngga 100% tempat asing buat saya. Enam tahun lalu saya pernah OJT di sini. Hanya saja lima tahun di Bandung terlanjur membuat saya nyaman dan susah move on. Saking belum move on nya, banyak yang mengira rumah saya di Bandung. Gimana nggak, akhir pekan lebih sering saya habiskan di luar Sukabumi. Kalau ngga ke Bandung ya ke Bogor. Selama hampir 3 bulan ini, rasanya baru 3 atau 4 weekend saya habiskan di Sukabumi. Selain alasan Diklat, rapat, acara kantor yang sudah lama dijadwalkan, ada juga sih yang memang sengaja main. Jadi ya tipis-tipislah antara belum move on sama memanfaatkan situasi 🙂

Satu hal yang patut disyukuri dari manusia adalah kemampuan beradaptasi. Bagaimanapun, pindah ini membuat saya belajar (lagi) tentang menyesuaikan diri baik dengan lingkungan maupun pekerjaan. Sejauh ini saya bersyukur karena pindah berarti menambah teman dan sahabat baru tanpa perlu kehilangan sahabat lama. Saya memang tidak bisa bertemu teman-teman di Bandung semudah dulu tapi sahabat saya mbak Eka pernah bilang gini,  jarak kita kan sedekat WA. Bener juga sih. Kalau kangen ya tinggal kirim pesan di WhatsApp. Pengen sharing sesuatu ya tinggal video call aja.

Perkara lain yang perlu penyesuaian adalah pekerjaan. Belajar pekerjaan baru itu menantang namun melepaskan pekerjaan lama ternyata juga ngga kalah menantang. Fase “mewariskan” pekerjaan dan menahan diri untuk tidak mengomentari cara kerja, strategi, atau apapun yang dilakukan oleh orang yang meneruskan pekerjaan lama kita ternyata perlu usaha juga. Saya jadi ingat waktu dulu jadi pegawai baru, mungkin begini juga yang dirasakan pegawai senior yang mengajari saya. Hidup memang selalu begitu ya, selalu muter dan tidak ada yang pasti. Dan karena hidup juga harus berjalan apapun yang terjadi, saya berusaha punya pikiran yang positif biar pindah menjadi sebuah petualangan indah.

Ngomong-ngomong, ada yang punya cerita seru seputar pindah? Boleh banget lho di share di komentar .

.Tamaki Aso: anchor woman favorit.

.Tamaki Aso: anchor woman favorit.

Sebulan lalu dunia internet heboh sama mbak Ira Kusno. Itu lho, pembaca berita yang kemudian menjadi moderator debat calon gubernur DKI. Kalau saya nih, setiap ingat pembaca berita langsung inget Tamaki Aso. Tamaki Aso, tokoh sentral dari dorama Anchor Woman. Dorama ini sudah lama sekali ditayangkan. Kayanya zaman saya masih SD atau SMP awal. Seingat saya dulu ditayangkan tiap akhir pekan di Indosiar. Secara garis besar Anchor Woman atau News no Onna menceritakan kehidupan Tamaki Aso bersama anak tirinya dan lika liku Aso sebagai seorang jurnalis.

anchor-woman400
Ryu, Aso, Kubota

Tamaki Aso adalah perempuan mandiri dan sukses. Belum lama menjadi penyiar berita malam yang merupakan acara prime time di Channel 2 Aso  menikah dengan Kaito Kudo, seorang profesor dengan satu anak bernama Ryu. Sampai suatu hari Aso harus membacakan berita tentang kecelakaan yang menewaskan suami dan mantan istrinya. Kehilangan ayah dan ibu, Ryu tidak punya pilihan selain tinggal dengan Aso, ibu tiri yang baru satu kali dia temui dan tidak disukainya. Aso yang juga tidak menyukai Ryu, menerima Ryu atas desakan Mr. Kubota sahabat almarhum suaminya. Setidaknya sampai bibi Ryu kembali dari Afrika, Aso bersedia tinggal bersama anak tirinya.

Sebagai penyiar berita andalan Channel 2, Tamaki Aso adalah jurnalis yang cerdas dan berdedikasi tinggi. Selalu tepat waktu, memberikan ide-ide segar dan fokus dalam mengerjakan tugas adalah nilai lebih Aso. Namun dibalik kesempurnaannya, Aso juga orang yang egois dan mau menang sendiri. Hingga karena idealisme dalam bekerja, Aso harus mengundurkan diri dari Channel 2. Aso menolak untuk tidak menayangkan investigasi kasus yang menyangkut perusahaan tempatnya bekerja. Alhasil, dia harus rela kehilangan posisi sebagai penyiar utama dan harus mencari pekerjaan ke stasiun televisi lain.

Sial bagi Aso. Dipecat Channel 2 artinya tidak ada stasiun TV besar lain yang mau menerimanya sebagai penyiar. Satu-satunya stasiun televisi yang bersedia mempekerjakan Aso adalah TV Kabel Niko Niko, sebuah TV lokal dengan pelanggan sedikit. Kehidupan Aso seketika berubah. Dari fasilitas mobil jemputan plus sopir di Channel 2 menjadi sepeda onthel dari Niko Niko. Meskipun berpindah tempat kerja, Aso tetap pribadi yang sombong dan sulit  menerima sepenuhnya keberadaan dirinya di stasiun TV kecil. Sampai kamerawan Aso di Niko Niko mengirimkan dokumenter tentang sampah karya Aso dan ternyata memenangkan penghargaan. Saat itulah Channel 2 menawarinya kembali bergabung. Di sinilah keteguhan Tamaki Aso diuji. Kembali bersama Channel 2 atau bertahan di Niko Niko. Sebuah pilihan sulit yang akhirnya diambil Aso dengan bantuan orang-orang terdekatnya. Read more