.(p)indah.

.(p)indah.

20170304_181910.jpg
pesan buat yang p–indah

Barangkali yang pasti di dunia kerja itu cuma dua. Kalau ngga berhenti kerja ya pindah. Mulai dari pindah ruangan, pindah divisi, pindah jabatan, pindah kota dan pindah-pindah yang lain. Saya pun mengalaminya Desember lalu. Smooth? Ngga pakai drama? Sayangnya pakai dikit. Hahaha, bukan drama dengan siapa atau apa tapi lebih ke drama dengan diri sendiri.

Masa-masa mendekati pindah itu, saya dikuasai oleh pikiran-pikiran yang ngga penting. Gimana ya nanti di tempat baru? Gimana kerjaannya? Terus seperti apa lingkungannya? Dan sederet pertanyaan lain yang setelah saya pikirkan lagi kok terasa berlebihan. Sukabumi, tempat saya pindah ini sebenarnya ngga 100% tempat asing buat saya. Enam tahun lalu saya pernah OJT di sini. Hanya saja lima tahun di Bandung terlanjur membuat saya nyaman dan susah move on. Saking belum move on nya, banyak yang mengira rumah saya di Bandung. Gimana nggak, akhir pekan lebih sering saya habiskan di luar Sukabumi. Kalau ngga ke Bandung ya ke Bogor. Selama hampir 3 bulan ini, rasanya baru 3 atau 4 weekend saya habiskan di Sukabumi. Selain alasan Diklat, rapat, acara kantor yang sudah lama dijadwalkan, ada juga sih yang memang sengaja main. Jadi ya tipis-tipislah antara belum move on sama memanfaatkan situasi 🙂

Satu hal yang patut disyukuri dari manusia adalah kemampuan beradaptasi. Bagaimanapun, pindah ini membuat saya belajar (lagi) tentang menyesuaikan diri baik dengan lingkungan maupun pekerjaan. Sejauh ini saya bersyukur karena pindah berarti menambah teman dan sahabat baru tanpa perlu kehilangan sahabat lama. Saya memang tidak bisa bertemu teman-teman di Bandung semudah dulu tapi sahabat saya mbak Eka pernah bilang gini,  jarak kita kan sedekat WA. Bener juga sih. Kalau kangen ya tinggal kirim pesan di WhatsApp. Pengen sharing sesuatu ya tinggal video call aja.

Perkara lain yang perlu penyesuaian adalah pekerjaan. Belajar pekerjaan baru itu menantang namun melepaskan pekerjaan lama ternyata juga ngga kalah menantang. Fase “mewariskan” pekerjaan dan menahan diri untuk tidak mengomentari cara kerja, strategi, atau apapun yang dilakukan oleh orang yang meneruskan pekerjaan lama kita ternyata perlu usaha juga. Saya jadi ingat waktu dulu jadi pegawai baru, mungkin begini juga yang dirasakan pegawai senior yang mengajari saya. Hidup memang selalu begitu ya, selalu muter dan tidak ada yang pasti. Dan karena hidup juga harus berjalan apapun yang terjadi, saya berusaha punya pikiran yang positif biar pindah menjadi sebuah petualangan indah.

Ngomong-ngomong, ada yang punya cerita seru seputar pindah? Boleh banget lho di share di komentar .