.Mencoba Lari: 5K Pertama Saya.

wp-1583250134533..jpg

Jika disuruh memilih, antara membaca buku dan olahraga saya akan memilih membaca buku. Jadi buat yang tahu saya, ikut lomba lari itu sesuatu yang ngga mungkin. Untuk menjaga kebugaran, paling saya jalan kaki dan sesekali renang atau lari. Tapi tentu saja ngga sampai 5 kilometer seperti yang mau saya ceritakan ini.

Keikutsertaan saya di acara lari semata-mata karena ajakan dari Shasa, partner traveling setia yang setelah pindah ke Jakarta jadi demen ikut lari-larian. Berhubung kami sekarang sudah pisah kota, lomba lari ini sekaligus menjadi ajang main bareng. Lari yang saya ikuti adalah FEBulous run dari alumni Fakultas Ekonomi UGM sekitar 6 bulan lalu, tepatnya September 2019. Duh ketauan saya males nulis nih.

Sebagai pengalaman pertama mengikuti lari, saya ngga punya target muluk-muluk. Sederhana saja, bisa finish dengan selamat maksimal 60 menit. Idealnya, sebelum ikutan lari latihan dulu kan ya biar badan terbiasa. Apa daya, sekitar dua minggu sebelum tanggal lomba lari, kaki saya sakit. Tiba-tiba saja pas lagi jalan-jalan kaki seperti keseleo. Ternyata sampai di hari H, kaki saya belum sembuh sepenuhnya. Lalu apakah saya tetap lari? Yup, saya memaksakan diri untuk ikut lari. Hasilnya? Saya finish dengan komposisi jalan lebih banyak daripada lari. Alhamdulillah, masih di bawah 60 menit.

Oya, kalau melihat rutenya, saya masih ngga percaya bisa juga saya lari sejauh itu. Tapi memang manusia begitu kan, kadang merasa dirinya tidak mampu bahkan sebelum mencoba.

 

.Tentang Harapan dan Keinginan.

hope

Salah satu hal yang membuat kita bisa bertahan dalam suatu kondisi yang sulit dan tidak menyenangkan adalah adanya harapan bahwa di waktu yang akan datang, keadaan akan membaik. Baik karena usaha kita sendiri atau karena berbagai perubahan yang pasti terjadi. Begitu juga di dunia kerja. Tahun ini, memasuki tahun ke-9 saya bekerja di perusahaan yang telah banyak memberi warna dalam hidup. Selama hampir 1 dekade, saya merasakan pasang surut. Tantangan, rasa puas karena mencapai kinerja yang diinginkan, pindah dan adaptasi, bosan, ingin menyerah, keinginan mencoba bidang lain serta kebahagiaan karena dikelilingi lingkungan yang baik.

Dari sekian pasang surut itu, yang paling menganggu adalah bila keinginan pindah datang. Ada banyak faktor penyebab, namun salah satu pemicu munculnya keinginan itu di diri saya adalah keinginan pindah ke kota dan bagian tertentu. Bukan karena apa yang saya kerjakan sekarang tidak menarik dan kotanya tidak nyaman, tapi lebih ke keinginan mencari yang lebih nyaman. Di titik ini, saya merasa menjadi orang yang kurang bersyukur.  Kayanya enak kalau pindah nanti bisa ini itu atau itu enak banget sih si A, soalnya dia bla bla bla. Semua mengarah ke orang lain dan tidak fokus pada berbagai kemudahan yang dirasakan sendiri.

Minggu lalu, ketika rasanya hati tidak tenang dan banyak keinginan ini itu yang akhirnya membuat semangat turun, saya mengontak seorang teman. Panjang lebar kami bertukar pikiran lewat whatsapp. Kami sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu sawang sinawang, saling melihat. Dan umumnya, rumput tetangga terlihat lebih hijau. Tentang keinginan pindah, kami berdiskusi bahwa tidak semua kenyamanan tempat atau kota yang kita bayangkan itu akan menjadi asyik dan nyaman ketika sudah kita jalani. Dia mengingatkan tentang kenalan kami yang sudah mendapat apa yang dia inginkan tapi nyatanya hati dan pikirannya tidak nyaman dan kalau boleh memilih, ingin kembali ke tempat sebelum kenalan kami ini pindah.

Pada akhirnya, saya harus setuju dengan kalimat be careful with you wish for. Emosi sesaat, rasa jenuh yang salah disikapi atau hanya rutinitas yang membuat bosan tidak selamanya harus direspon dengan keinginan pindah. Hati-hati dengan harapan dan keinginan ini tidak cuma berlaku untuk masalah pekerjaan saja menurut saya. Sebab, saat kita mengharapkan sesuatu, kita akan memikirkan dan mengucapkannya sehingga seperti nasehat lain, kata-kata itu akan menjadi doa dan menentukan nasib kita selanjutnya. Semoga saya selalu ingat, untuk menjalani apapun dengan syukur. Be careful with you wish for and always think positive.

.Pensiun Di mana Nanti?.

🙂

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di pikiran saya. Senin lalu, ada dua pegawai di kantor yang pensiun. Kedua pegawai tersebut telah mengabdi selama 35 tahun dan 36 tahun. Rasa sedih dan haru tidak hanya dirasakan oleh pegawai yang pensiun. Namun juga oleh rekan kerja, atasan maupun bawahan.

Tahun ini ngga terasa sudah 1 windu saya bekerja. Dalam kurun waktu tersebut saya mengalami pindah ke tiga kota berbeda. Sering? Tidak. Ada rekan yang lebih sering pindah daripada saya. Pindah kerja selain menimbulkan kegalauan juga menambah pengalaman dan pergaulan. Dan pada akhirnya menimbulkan pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Lebih dalam lagi, pertanyaan tersebut saya bawa baper dengan nanti ada yang sedih ngga kalau saya pensiun? Hahaha.

Mungkin banyak yang berpikir ngapain mikirin yang belum tentu dan masih nanti. Betul. Pada akhirnya saya juga mengambil kesimpulan tersebut. Sudahlah jalani saja semua ini dengan benar. Jalin hubungan yang baik dengan rekan kerja. Karena saya percaya, peristiwa yang terjadi dan orang yang saya temui bukanlah kebetulan. Jadi, pensiun di mana saya nanti? Di manapun itu semoga merupakan tempat yang diberkahi Allah SWT. Aamiin.

.Review Buku Jouska: The Principles of Personal Finance.

Halo apa kabar pembaca yang budiman? Masih ingat sebelumnya saya pernah menuliskan tentang pengalaman ikutan Jouska Talks di blog ini? Alhamdulillah banyak yang mampir sini dan membaca tulisan tersebut. Jouska emang beneran akun instagram favorit ya, hehe. Baru-baru ini Jouska me-launching buku keuangan pertamanya. Berhubung banyak yang penasaran, mau beli tapi ragu, mau pinjam tapi malu, lebih baik baca dulu reviewnya di sini ya. Kebetulan kemarin pengen menghadiahi diri sendiri jadilah saya membeli buku Jouska.

20190419_184503.jpg

bukunya Jouska

Saya akan mulai dari tampilan buku. Buku The Principles of Personal Finance, selanjutnya kita sebut buku Jouska berukuran A4 dan dicetak dalam kertas yang bagus dan full colour. Buku ini memiliki 132 halaman, namun terlihat tebal karena kertasnya yang eksklusif. Kalau mau dibawa-bawa kemudian dibaca di kereta misalnya, memang kurang praktis. Rasanya buku ini lebih cocok dibaca sambil duduk di ruangan atau kafe yang ada mejanya sambil mencatat, hal apa dari buku ini yang harus segera kita praktekkan atau harus kita perdalam lagi pengetahuannya.

Secara garis besar, ada tiga bagian dalam buku Jouska. Yang pertama adalah pandangan CEO Jouska yaitu mas Aakar. Di bagian ini mas Aakar menuangkan pandangannya tentang industri keuangan di Indonesia dan masa depan Jouska itu sendiri. Bagian kedua mengisahkan terbentuknya Jouska oleh tiga pendirinya yaitu mas Aakar, mbak Farah Dini, dan mbak Indah Hapsari. Habis baca sejarah Jouska ini, jadi sadar bahwa Jouska ngga serta merta seterkenal dan sehits sekarang. Tetep ada perjuangan di baliknya.

20190419_184756.jpg

Jouska is…

Bagian ketiga mereka beri judul Jouska approach and Jouska chronicles. Inilah bagian kunci dari buku The Principles of Personal Finance. Jouska chronicles merupakan hasil wawancara Jouska dengan sahabat-sahabatnya. Sahabat Jouska juga beragam, mulai artis sampai pengusaha. Ada cerita-cerita tentang keuangan, gaya hidup, dan hobi  dari sahabat Jouska yang bisa kita ambil pelajarannya.

Inti dari prinsip-prinsip finansial tertuang dalam Jouska approach. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Jouska, bermula dari segitiga dasar atau basic triangle meliputi risk profile, current financial statement dan goals. Intinya, kalau mau mulai menata keuangan kita, 3 hal basic tersebut harus kita kenali. Karena sesama single belum menikah pun bisa jadi punya risk profile yang berbeda, misalnya yang satu membiayai sekolah adiknya sedangkan yang lain benar-benar hidup untuk diri sendiri.

20190419_184949.jpg

hai Vidi

Baca lebih lanjut

.Mencoba Ratangga, MRT Baru Jakarta.

20190405_074138.png

Ratangga di stasiun Blok A

Setiap hal baru biasanya menimbulkan rasa penasaran yang hanya bisa dituntaskan dengan mencoba. Salah satu yang teranyar dan hits banget bulan ini adalah MRT (moda Raya Terpadu) Jakarta. MRT Jakarta punya nama Ratangga yang dalam bahasa Jawa kuno berarti kereta perang.

Hampir semua media sudah mengulas hebohnya uji coba Ratangga. Mulai dari hal teknis terkait keretanya sampai ragam perilaku penumpang saat naik moda transportasi ini. Sebagai orang yang juga penasaran, saya akhirnya mencoba naik MRT Jakarta. Tepatnya Sabtu tanggal 30 Maret 2019 alias kemarin. Mumpung lagi ada perlu di Jakarta dan MRT masih memberi tiket gratis. Setelah booking di Bukalapak, dimulailah pengalaman baru naik Ratangga.

Perjalanan MRT Jakarta dimulai dari stasiun Lebak Bulus dan berakhir di stasiun Bundaran HI melintasi 11 stasiun. Sebelas stasiun tersebut terbagi menjadi stasiun layang dan stasiun bawah tanah. Untuk percobaan pertama, saya naik dari stasiun Blok A. Sabtu lalu stasiun Blok A masih berbenah. Secara umum, stasiunnya luas, bersih dan fasilitasnya lengkap. Kepadatan penumpang juga biasa saja. Stasiun Blok A merupakan stasiun layang. Untuk ke peron, ada dua eskalator yang harus dilewati. Kalo mau pakai tangga juga bisa. Lumayan lah buat olahraga.

20190401_095033.jpg

Stasiun Blok A, 30 Maret 2019

20190330_101837.jpg

Pilih kiri atau kanan?

20190401_095207.jpg

Tap tiket di sini

Kereta tiba di stasiun blok A dalam kondisi lumayan penuh. Pak satpam yang berjaga mengarahkan penumpang untuk naik di gerbong belakang yang relatif lebih longgar daripada gerbong depan. Sekitar 10 menit sampailah saya di stasiun Istora. Stasiun Istora merupakan stasiun bawah tanah. Saya dan teman berjalan ke pintu keluar menggunakan tangga. Kebetulan ngga ada eskalator di pintu keluar yang kami lewati. Baca lebih lanjut