.mudahnya baca buku di iPusnas.

IMG-20180816-WA0002.jpg

aplikasi iPusnas

Sejak punya smartphone, kebiasaan saya dalam membaca buku bisa dikatakan berubah. Sebelum tidur, setelah bangun bahkan saat menunggu antrian atau dalam kereta saya dulu memanfaatkan sebagai waktu untuk membaca. Namun sekarang, waktu tersebut lebih banyak saya gunakan untuk melihat hand phone, baik bersosial media maupun sekedar memantau berita online dan menyimak grup. Saya bahkan pernah membuat jadwal “detoks” sosmed gara-gara sudah merasa kecanduan. Kadang saya merindukan saat-saat dimana bisa membaca buku 3 jam non stop atau menghabiskan malam dengan membaca buku yang baru dibeli.

Bulan lalu, tidak sengaja saya mengeluhkan perihal susahnya memaksa diri membaca kepada seorang teman. Kemudian teman saya ini memberi saran agar saya mengunduh aplikasi iPusnas. Katanya, biarpun bukan buku cetak setidaknya ada buku yang dibaca daripada sekedar browsing ngga jelas atau stalking yang kurang penting. Rupanya iPusnas ini sudah ada sejak tahun 2016 dan diluncurkan sebagai upaya Perpustakaan Nasional untuk meningkatkan minat baca. Dan terbukti dong, sejak mengunduh di play store sampai sekarang, saya sudah membaca lebih kurang 10 buku. Not bad kan? 🙂

20180815_085349.jpg

Buku yang tersedia di aplikasi iPusnas cukup lengkap dan beragam. Untuk melakukan peminjaman, terlebih dulu kita mendaftar dengan email maupun akun facebook. Kemudian apabila ingin meminjam buku, tinggal cari saja buku yang diinginkan. Pencarian bisa menggunakan judul buku atau nama penulis. Jika buku yang kita inginkan masih tersedia, otomatis akan terunduh dan masuk dalam daftar buku yang dipinjam. Namun bila buku sedang dipinjam semua, kita bisa mengantri. Bila buku sudah tersedia, akan ada notifikasi dari iPusnas. Setiap akun hanya boleh meminjam 3 buku dengan lama peminjaman per buku selama 3 hari. Trus gimana bila sudah 3 hari belum selesai baca? Secara otomatis, buku akan ditarik oleh iPusnas. Namun jangan khawatir, buku yang sama bisa kita pinjam lagi.

Baca lebih lanjut

Iklan

.legacy.

what’s your legacy?

Inget ngga sih dulu pas kecil ada lagu yang liriknya “kalo gajah mati meninggalkan apa?” trus dijawab “gading, gading, gading gadingnya.” Nah entah kenapa belakangan ini saya kepikiran tentang peninggalan alias warisan ini. Jadi ceritanya Ramadhan lalu di kantor saya ada yang menginisiasi buka bersama panti. Mungkin ini terlihat biasa aja alias di tempat lain juga banyak. Di kantor sebetulnya juga ada buka bersama yatim dhuafa dan sudah dilaksanakan rutin tiap Ramadhan. Namun biasanya kegiatan dimotori oleh Lazis. Tahun ini entah inspirasi dari mana, teman-teman (mengaku) muda ingin membuat acara buka bersama panti secara mandiri. Jadi kebayang kan kalau tahun selanjutnya si inisiator pindah dan kegiatan bukber bareng panti tetap berjalan? Jelas, dia sudah meninggalkan “warisan” yang sangat bagus.

Jujur deh habis ikut bukber itu saya jadi bertanya-tanya. Kalau saya udah pindah dari kantor ini kira-kira apa ya warisan kebaikan yang saya tinggalkan? Sesuatu yang bisa diteruskan oleh yang lain bahkan setelah saya ngga ada di situ. Tiba-tiba di tengah rasa galau dan segala keinginan yang numpuk di kepala saya ketemu kesimpulan baru. Bahwa yang terpenting justru sekarang saya ada di sini, saya bisa meninggalkan “warisan” kebaikan apa.

Well, selamat berakhir pekan semua 🙂

.pengalaman tes toefl di IES Jakarta.

20180424_054206.jpg

kiriman paket dari IES

Hai, ada yang lagi cari-cari tempat buat tes TOEFL? Kalau iya, kamu berada di tempat yang tepat. Hehe, kali ini saya mau sharing tentang tes TOEFL yang saya ambil 14 April lalu. Masih lumayan fresh kan? Jadi ceritanya, saya pengen banget tahu berapa sih kemampuan TOEFL saya sekarang. Soalnya sertifikat TOEFL saya udah habis masa berlakunya. Malahan udah habis di 2016. Sedikit mundur, 2014 saya mengambil tes TOEF di Pusat Bahasa ITB karena waktu itu saya masih kerja di kantor Bandung. Tesnya dilakukan di hari kerja. Atas kebaikan atasan, saya izin sekitar 3 jam untuk ikutan tes. Nah, pas mau ambil tes di 2018 ini pertimbangan pertama saya adalah hari tes.

Tinggal di Sukabumi, saya memilih untuk tes di Bandung atau Jakarta. Hasil pencarian di Bandung nihil sehingga satu-satunya harapan adalah Jakarta. Dari hasil googling, ada 2 tempat yang saya pilih untuk mengambil tes di hari Sabtu. Pertama, di LBI Universitas Indonesia dan kedua di IES Jakarta. Untuk tes tanggal 14 April, hanya jadwal di IES Jakarta yang tersedia.

Pendaftaran tes TOEFL di IES sepenuhnya dilakukan melalui website. Di form aplikasi, terdapat pilihan tanggal namun tidak terdapat pilihan jam. Sebagai informasi, untuk hari Sabtu, IES menyediakan 2 jadwal yaitu jam 09.00-12.00 dan 13.00-16.00. Saat itu saya menelpon pihak IES dan meminta untuk ikut tes jam 1, namun pihak IES menyatakan bahwa waktu tes akan diplot oleh pihak IES. Setelah yakin bahwa bisa datang jam 9 pagi di Jakarta, saya memutuskan untuk mendaftar tes TOEFL. Email dari IES masuk tidak lama setelah saya mensubmit form pendaftaran.

Sesuai petunjuk di email, saya membayar biaya tes TOEFL sebesar 485.000 rupiah kemudian mengirimkan bukti transfer dan scan atau foto kartu identitas (bisa KTP, SIM atau paspor) kepada pihak IES. Selanjutnya pihak IES memverifikasi dan saya kembali mendapat email balasan berupa kartu peserta tes. Kartu peserta ini harus kita cetak dan menjadi syarat untuk mengikuti tes TOEFL. Selain kartu peserta, wajib juga dibawa kartu identitas asli yang ada fotonya dan bukti transfer selain itu bawa juga pensil 2B dan penghapus karena pihak IES tidak menyediakan alat tulis.

Bagaimana menuju IES Jakarta? Baca lebih lanjut

.wisata seni di NuArt Sculpture Park.

Hai, apa kabar libur panjang akhir pekan? Semoga setelah libur semangat kerja atau kuliah meningkat ya. Hari ini saya mau cerita seputar galeri seni di Bandung. Akhirnya setelah ngga tinggal di Bandung lagi. saya kesampaian main ke galeri milik seniman Nyoman Nuarta. Biasanya kalau ada di kota yang sama memang suka menunda dan nanti- nanti buat main ke suatu tempat.

NuArt Sculpture Park terletak di kompleks Setra Duta dengan total luas 3 hektar. Dari mulai masuk komplek perumahan hingga halaman sudah tersaji karya seni pak Nuarta. Tidak perlu takut nyasar karena papan nama galeri terlihat jelas dari arah datangnya kendaraan. Setahu saya tidak ada angkutan umum menuju tempat ini jadi selain kendaraan pribadi, silakan naik ojek atau taksi jika berminat mengunjungi galeri.

20180211_111318-1.jpg

halaman NuArt Sculpture Park

20180211_112235.jpg

“Doa”

20180211_111721.jpg

lupa judulnya apa

Untuk masuk ke galeri, pengunjung membayar tiket seharga 50.000 rupiah. Harga ini akan didiskon bila pengunjung masih pelajar atau mahasiswa dengan menunjukkan KTM atau kartu pelajar. Mas dan mbak resepsionis akan memberikan stiker NuArt sebagai suvenir dan stiker bulat untuk ditempel di baju sebagai tanda bagi pengunjung. Jangan khawatir, di galeri ini kita diperbolehkan mengambil gambar dengan catatan tanpa flash namun dilarang untuk memegang karya.

20180211_123756.jpg

sambutan di lobi 🙂

20180211_112942-1.jpg

GWK dalam berbagai media

Saya pertama kali melihat karya Nyoman Nuarta di Bali. Yup, pasti sudah pada tahu jika patung Garuda Wisnu Kencana adalah karya beliau yang fenomenal karena ukuran yang sangat besar. Selanjutnya saya melihat karya seni pak Nuarta saat dipamerkan di terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Agak ketinggalan memang, karena karya pak Nuarta sendiri mulai dikenal di akhir tahun 1979. Selain GWK, patung Arjuna Wijaya di Jakarta juga merupakan karya beliau. Nah, di galeri kita bisa menikmati lebih banyak karya putra kelahiran Tabanan ini.

Kunjungan dimulai dari lantai 2. Di lantai ini terdapat karya seni yang berasal dari kawat, tembaga, kuningan dan resin. Jika diamati cukup banyak karya lulusan ITB ini terinspirasi dari sosok perempuan. Di lantai 2 yang paling saya senangi adalah patung miss wolly. Gemes ngeliat domba dari kawat. Untuk karya di lantai dasar, titik sentral ada di karya berjudul Nightmare.

20180211_113821.jpg

“Miss Wolly”

20180211_114337.jpg

dari depan ke belakang: Stress, Condemned, Waiting

Baca lebih lanjut

.Resign! cerita segar anak kantoran.

Sebelum libur tahun baru imlek, mari kita ngomongin buku. Siapa tahu ada yang berniat ngabisin libur dengan ngadem di rumah sambil baca, metro pop terbitan Gramedia ini bisa jadi pilihan. Saya sendiri kenal Resign! lewat wattpad. Yup, anda tidak salah baca pemirsa. Cerita ini memang lebih dulu terbit di wattpad dan termasuk cerita dengan pembaca yang banyak. Cukup surprise juga waktu pertama menemukan tulisan Almira Bastari di wattpad yang kebanyakan isinya perjodohan atau CEO pujaan kaum hawa yang mengejar cinta #apasihnit.

20180211_171851.jpg

Di wattpad, cerita ini ngga diposting sampai selesai karena sudah dipinang penerbit. Kemudian dibukalah pre order buku dengan bonus lanyard. Saya sendiri ngga minat ikut PO-nya karena dari cerita terakhir yang diposting penulis, ending Resign! sudah bisa ditebak. Ternyata info dari instagram dan wattpad penulis, PO Resign! cukup “berdarah-darah” alias rebutan saking banyak peminat. Terus kenapa tiba-tiba sekarang beli? Ngga ngerti deh, waktu ke Gramed PVJ dan melihat si gonjreng ini saya ngerasa pengen bawa pulang aja, random kan? Oke deh, daripada kelamaan mending kita liat aja ini buku sebenarnya nyeritain apa sih?

Tersebutlah di suatu kantor konsultan di ibukota, serombongan cungpret alias kacung kampret berlomba untuk resign. Ada Alranita alias Rara, cungpret yang paling lama bertahan di divisi tersebut lalu Karen ibu satu anak yang kerjaannya dimarahin muluk, kemudian Carlo si gempal yang baru nikah dan Andre cungpret yang nasibnya paling mending plus terakhir ada anak baru bernama Sandra si pemuja bos. Nah, bos idola Sandra inilah sumber masalah bagi cungpret lain. Namanya Tigran. Masih muda, pinter, ganteng tapi bikin para cungpret sibuk menyumpah setiap selesai meeting atau dikasih tugas. Oke, dari sini udah mulai tergambar kan novel ini ngomongin apaan?

cuti

gambar dari IG penulis

Buat saya sendiri, cerita Resign! ini menghibur dan bikin ngakak. Meskipun bekerja di perusahaan yang tekanannya tidak seperti Alranita dan geng cungpret tapi beberapa kejadian terasa relate dengan dunia perkantoran yang saya alami. Hahaha. Terutama adegan ngajuin cuti dan bergosip sesama teman kantor. Atau keluhan, ampun atasanku, ngga enak banget sih? Percayalah, belajar dari kisah para cungpret, yang kita keluhkan itu belum tentu yang terburuk. Bisa jadi kalau diganti dapat yang lebih parah. Hahaha. Baca lebih lanjut