.Jouska Talks: Ngomongin Keuangan Bareng Minjou.

20181103_093725.jpg

JTalks’s sign

Hai, ada yang follow instagram Jouska? Saya yakin sebagian pengguna instagram yang seneng bahasan tentang keuangan mengikuti akun instagram satu ini. Jouska adalah financial adviser mandiri yang belakangan hits banget di instagram. Mungkin ada yang kecanduan sama story dan QnA dari minjou alias admin Jouska yang seru dan bikin penasaran? Sambil mikir, ya ampun ada ya yang kaya gini di Indonesia. Punya gaji sekian puluh juta tapi habis di beli kopi? Follower Jouska pasti juga tahu kalau mereka punya beberapa acara yang berhubungan dengan keuangan antara lain Jouska Talks yang selanjutnya kita sebut JTalks dan Stockgasm. Sederhananya kalau Jtalks semacam ndengerin dan ngobrol masalah keuangan sementara Stockgasm khusus ngomongin saham.

Sejujurnya, saya maju mundur mau ikut JTalks atau tidak. Pada dasarnya saya memang seneng baca-baca tentang financial planning tapi suka denial kalau lihat angka yang tidak sesuai harapan. Akhirnya saya memantapkan diri untuk ikut JTalks di Jakarta pas tanggal 3 November kemarin. Dipikir-pikir emang rada niat naik kereta dari Sukabumi cuma buat acara JTalks yang berlangsung 4 jam saja. Sesuai email dari Jouska, ada 3 agenda yang dibahas. Pertama tentang financial planning, kedua tentang investasi dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Tulisan ini bakalan panjang banget karena emang yang dibahas di JTalks meskipun diselingi candaan, sangat berisi dan bagus buat diketahui banyak orang.

Sesuai dengan rundown acara, JTalks dimulai tepat waktu. Salut deh, Jouska beneran anti ngaret ngaret klub. Sesi financial planning dipandu oleh Farah Dini, advisor sekaligus co-founder Jouska. Mbak Farah bilang bahwa yang terpenting itu bukan jumlah penghasilan yang kita dapat melainkan bagaimana kita mengelola penghasilan. Gaji 40 juta minus juga banyak namun bergaji 5 juta dan bisa punya tabungan juga ada.

20181103_112514.jpg

Mas Aakar founder Jouska

Di sesi ini, mbak Farah menjelaskan bahwa sebelum kita nentuin mau ini itu, investasi ke sana sini yang pertama mesti kita tahu adalah kondisi keuangan saat ini alias current financial statement. Dalam current financial statement, ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu aset, utang dan cashflow alias aliran keluar masuknya uang. Mulai di sini udah ada PR bagi peserta yaitu mengevaluasi kondisi keuangan masing-masing. Hehehe. Caranya gimana? Mulai dari mendata aset. Aset terdiri dari aset lancar (aset yang gampang cair misalnya tabungan) kemudian aset guna yaitu barang yang kita gunakan sendiri misal kendaraan atau rumah dan yang terakhir aset investasi. Duh, baru dari aset aja udah mulai pusing dan kepikiran walaupun menurut mbak Farah untuk usia sampai 35 tahun masih wajar bila kepemilikan aset guna lebih banyak. Tapi seiring waktu, yang harus semakin besar adalah aset investasi.

Setelah mendata aset, selanjutnya adalah mendata utang-utang yang dipunyai. Dari total aset dikurangi utang, bakalan muncul angka kekayaan bersih alias net worth kita. Terus setelah tahu net worth, kita juga musti tahu alur kas alias cashflow. Berapa jumlah pemasukan dan kemana aja uang itu kita belanjakan harus banget kita tahu. Jadi ngga ada cara lain selain nyatet. Ini memang PR banget ya tapi dengan mencatat kita bakalan tahu kalau ada “bocor halus” atau latte factor dalam pengeluaran kita. Yang paling penting buat diingat dalam mengatur pengeluaran adalah pay yourself first alias harus bayar diri sendiri pada kesempatan pertama. Caranya? Sisihkan tabungan dan investasi di awal. Kalau sulit, buat semua otomatis. Jangan sampai hasil kerja keras kita malah justru ngga ada manfaatnya buat hidup kita di masa depan.  Baca lebih lanjut

.Hari Listrik: Prestasi Nyata Terangi Indonesia.

IMG-20181026-WA0017.jpg

PDKB (Pekerjaan Dalam Kondisi Bertegangan) photo by Dimas

Tidak pernah saya menganggap 27 Oktober sebagai hari yang istimewa. Sampai delapan tahun lalu, ketika saya bergabung dengan perusahaan yang memiliki motto “Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik”. Tak ada di benak saya bahwa saya akan ada perusahaan ini, menjadi bagian yang selalu diingat saat padam walaupun hanya 5 menit namun menjadi bagian dari yang terlupakan saat 23 jam 55 menit dalam keadaan terang.

Ada satu hal yang membuat saya begitu terharu dan merinding sejak masuk perusahaan ini sampai sekarang. Yaitu setiap kali menyanyikan Mars PLN dan sampai pada lirik yang berbunyi menyediakan listrik ke seluruh pelosok tanah air serta layani kebutuhan kota dan pedesaan. Pikiran saya langsung terbayang ke pekerjaan teman-teman di lapangan saat terjadi gangguan. Juga ke desa yang jauh sekali hingga membuat badan terguncang-guncang dan perut mual saat menuju ke sana. Bayangkan jika tidak ada yang rela berpeluh, berjalan jauh sampai ke pelosok sana mungkin tidak akan sampai informasi terkini, tidak akan ada komunikasi melalui telepon genggam.

Lalu baru-baru ini ketika terjadi bencana Palu dan Donggala. Sungguh haru melihat teman-teman PLN Jawa Barat menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Sulawesi untuk membantu mempercepat pulihnya kelistrikan di sana. Rasanya nyess di hati melihat video seorang teman yang mengabadikan kegembiraan warga saat listrik di desanya berhasil dinyalakan.

Dear PLN tercinta, selamat hari listrik ke-73. Apapun tantangan yang terjadi ke depan tetaplah menjadi perusahaan yang berkontribusi memberikan kehidupan yang lebih baik.

Majulah PLN untuk selamanya, jayalah PLN untuk selamanya

.Jepang: 4 tahun berlalu & rindu yang menggebu.

Beberapa bulan lalu, teman saya mengirim pesan whatsapp. Katanya dia tertarik pergi ke Jepang. Ada paket wisata ke Tokyo yang menurutnya murah. Dia meminta pendapat saya. Saya katakan Jepang itu bagus. Kalau itinerary tur memang cocok, ikut saja. Kemudian dia bertanya, tempat apa saja yang saya datengin waktu main ke Jepang? Duh, pikiran saya langsung bernostalgia. Mengembara (ceileh) ke Juni 2014 ketika saya menginjakkan kaki ke “rumah” Shinici Kudo.

Keinginan ke luar negeri sebenarnya sudah ada sejak kuliah. Masa itu saya sering lihat iklan Air Asia yang menawarkan tiket seharga 0 rupiah. Sayangnya, selama kuliah keinginan itu tidak terwujud. Jadi ketika diterima kerja, saya membuat list negara yang ingin saya datangi. Masih ingat betul, saya menuliskan Singapura dan Korea Selatan. Sudah pasti pilihan negara kedua adalah hasil menonton drama Korea sejak zaman SMP. Lalu waktu berlalu, saya malahan pergi umroh terlebih dahulu. Baru di tahun 2014 saya mencoret Singapura dari list. Mustinya setelah Singapura, saya ke Korsel kan? Namun entah kenapa waktu itu saya beralih ke Jepang. Barangkali karena saya tergoda cerita-cerita dari blog yang saya singgahi. Kebanyakan blog menceritakan serunya backpackeran ke Jepang. Dari sini, mulailah saya meracuni Shasa untuk mengalihkan tujuan traveling. Keraguan Shasa ketika saya ajak ke Jepang adalah masalah komunikasi. Selain itu konon biaya penginapan dan transportasi Jepang mahal. Hal ini makin menyiutkan nyali. Akhirnya setelah khawatir ini itu, kami membeli juga tiket ke Jepang. Horeee, konichiwa Tokyo 🙂

20180730_185726.jpg

di Bandara Chubu

CAM00530.jpg

menuju kota Nagoya

Setelah mencari tiket yang sesuai dengan tanggal dan anggaran kami, dengan sedih kami harus mencoret pesawat tujuan Tokyo. Kelamaan mikir membuat harga tiket tujuan Tokyo melambung melebihi anggaran yang saya dan Shasa punya. Akhirnya kami putuskan membeli tiket pulang terlebih dahulu. Kami memutuskan pulang dari Osaka. Setelah menunggu, ternyata harga tiket ke Tokyo tidak kunjung bersahabat dan berakhir dengan kami membeli tiket tujuan Nagoya. Jadi rute kami waktu itu Nagoya – Tokyo – Kyoto – Osaka. Baca lebih lanjut

.mudahnya baca buku di iPusnas.

IMG-20180816-WA0002.jpg

aplikasi iPusnas

Sejak punya smartphone, kebiasaan saya dalam membaca buku bisa dikatakan berubah. Sebelum tidur, setelah bangun bahkan saat menunggu antrian atau dalam kereta saya dulu memanfaatkan sebagai waktu untuk membaca. Namun sekarang, waktu tersebut lebih banyak saya gunakan untuk melihat hand phone, baik bersosial media maupun sekedar memantau berita online dan menyimak grup. Saya bahkan pernah membuat jadwal “detoks” sosmed gara-gara sudah merasa kecanduan. Kadang saya merindukan saat-saat dimana bisa membaca buku 3 jam non stop atau menghabiskan malam dengan membaca buku yang baru dibeli.

Bulan lalu, tidak sengaja saya mengeluhkan perihal susahnya memaksa diri membaca kepada seorang teman. Kemudian teman saya ini memberi saran agar saya mengunduh aplikasi iPusnas. Katanya, biarpun bukan buku cetak setidaknya ada buku yang dibaca daripada sekedar browsing ngga jelas atau stalking yang kurang penting. Rupanya iPusnas ini sudah ada sejak tahun 2016 dan diluncurkan sebagai upaya Perpustakaan Nasional untuk meningkatkan minat baca. Dan terbukti dong, sejak mengunduh di play store sampai sekarang, saya sudah membaca lebih kurang 10 buku. Not bad kan? 🙂

20180815_085349.jpg

Buku yang tersedia di aplikasi iPusnas cukup lengkap dan beragam. Untuk melakukan peminjaman, terlebih dulu kita mendaftar dengan email maupun akun facebook. Kemudian apabila ingin meminjam buku, tinggal cari saja buku yang diinginkan. Pencarian bisa menggunakan judul buku atau nama penulis. Jika buku yang kita inginkan masih tersedia, otomatis akan terunduh dan masuk dalam daftar buku yang dipinjam. Namun bila buku sedang dipinjam semua, kita bisa mengantri. Bila buku sudah tersedia, akan ada notifikasi dari iPusnas. Setiap akun hanya boleh meminjam 3 buku dengan lama peminjaman per buku selama 3 hari. Trus gimana bila sudah 3 hari belum selesai baca? Secara otomatis, buku akan ditarik oleh iPusnas. Namun jangan khawatir, buku yang sama bisa kita pinjam lagi.

Baca lebih lanjut

.legacy.

what’s your legacy?

Inget ngga sih dulu pas kecil ada lagu yang liriknya “kalo gajah mati meninggalkan apa?” trus dijawab “gading, gading, gading gadingnya.” Nah entah kenapa belakangan ini saya kepikiran tentang peninggalan alias warisan ini. Jadi ceritanya Ramadhan lalu di kantor saya ada yang menginisiasi buka bersama panti. Mungkin ini terlihat biasa aja alias di tempat lain juga banyak. Di kantor sebetulnya juga ada buka bersama yatim dhuafa dan sudah dilaksanakan rutin tiap Ramadhan. Namun biasanya kegiatan dimotori oleh Lazis. Tahun ini entah inspirasi dari mana, teman-teman (mengaku) muda ingin membuat acara buka bersama panti secara mandiri. Jadi kebayang kan kalau tahun selanjutnya si inisiator pindah dan kegiatan bukber bareng panti tetap berjalan? Jelas, dia sudah meninggalkan “warisan” yang sangat bagus.

Jujur deh habis ikut bukber itu saya jadi bertanya-tanya. Kalau saya udah pindah dari kantor ini kira-kira apa ya warisan kebaikan yang saya tinggalkan? Sesuatu yang bisa diteruskan oleh yang lain bahkan setelah saya ngga ada di situ. Tiba-tiba di tengah rasa galau dan segala keinginan yang numpuk di kepala saya ketemu kesimpulan baru. Bahwa yang terpenting justru sekarang saya ada di sini, saya bisa meninggalkan “warisan” kebaikan apa.

Well, selamat berakhir pekan semua 🙂