.4 makanan enak yang wajib dicoba di Cirebon.

.4 makanan enak yang wajib dicoba di Cirebon.

Hallo, kali ini saya mau cerita tentang Cirebon. Jadi saya pertama kali ke Cirebon karena urusan dinas. Waktu itu sempat nginep tapi ngga sempat kemana-mana. Akhirnya, saya “menghasut” Shasha buat mengisi akhir pekan dengan main ke kota udang ini. Karena tahu pasti kalau Shasha bakalan sulit nolak diajak main, terdamparlah kami berdua di Cirebon.

Selama Sabtu dan Minggu, kami sempat main ke beberapa tempat wisata di Cirebon mulai dari keraton sampai makam. Yang ngga kalah asik kami berhasil mencicipi berbagai makanan enak di sana. Semuanya memang makanan berat sih. Saking beratnya, mau ngemil tahu gejrot pun perut udah ngga sanggup. Dan ini dia 4 makanan yang wajib dicoba bila berkunjung ke Cirebon:

1. Nasi jamblang

nasi jamblang

Ada 2 tempat makan nasi jamblang yang terkenal di Cirebon. Pertama, nasi jamblang Mang Dul yang ada di dekat mal Grage dan yang kedua nasi jamblang bu Nur di dekat masjid At Taqwa. Nasi jamblang sendiri adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun jati kemudian dimakan dengan macam-macam lauk yang bisa kita pilih. Dan jangan lupa tambahkan sambelnya yang maknyus.

Nasi jamblang dijual per bungkus. Satu bungkus nasi kira-kira sebesar satu kepal tangan. Pilihan lauknya beragam mulai dari pepes, lauk yang digoreng, juga sayur. Harganya pun terjangkau. Kebetulan saya sudah mencoba nasi jamblang Mang Dul dan Bu Nur. Buat saya sendiri, keduanya enak. Nasi pulen diadu dengan pepes plus sambal bertemu perut lapar. Mantap.

2. Nasi lengko

nasi lengko

Makanan lain yang saya coba di Cirebon adalah nasi lengko. Menurut saya sendiri, nasi lengko ini menyerupai tahu ulek. Perbedaannya ada pada bumbu kacang. Sepiring nasi lengko yang tersaji akan berisi nasi, tahu dan tempe goreng yang dipotong kecil-kecil, mentimun cacah, tauge plus irisan daun kucai. Diatasnya diberi bumbu kacang dan kecap. Untuk pelengkap, bisa dimakan dengan kerupuk. Read more

Iklan
.tentang bekerja di SDM.

.tentang bekerja di SDM.

hr
manusia = unik (source)
*Tulisan ini saya buat tahun 2016  dan saya  ikutkan lomba menulis dalam rangka Hari Listrik Nasional (HLN) yang diperingati setiap 27 Oktober. Tentunya sudah diedit biar pas buat tayang di blog sendiri 🙂 Ngga menang sih, diposting di blog sebagai dokumentasi pribadi aja. Sayangnya tahun ini ngga ada lomba menulis padahal pengen ikut lagi.

SDM. Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika pertama kali mendengar singkatan tersebut? Sumber Daya Mineral, Sumber Daya Magnet seperti jawaban murid SD tempat saya mengajar di kelas inspirasi atau malah Selamatkan Diri Masing-masing? Hmmm, SDM alias Sumber Daya Manusia memang paling sering diplesetkan menjadi selamatkan diri masing-masing. Apa alasannya? Saya pun tidak tahu pasti.

Bicara tentang SDM, tahun ini merupakan tahun kelima saya bekerja di bagian ini. Bekerja di SDM sebuah perusahaan listrik sama sekali tidak pernah saya bayangkan. Sebelum bekerja di sini, yang saya tahu tentang perusahaan ini hanya sebatas petugas yang menangani listrik padam atau tagihan listrik bulanan yang nilainya sering membuat kening ibu berkerut. Baru pada 2010 ketika mengenal lebih dekat saya tahu bahwa tempat saya bekerja merupakan perusahaan besar dengan berbagai fungsi di dalamnya. SDM sendiri merupakan fungsi pendukung yang keberadaannya tidak boleh dipandang sebelah mata.

Mari saya ceritakan mengapa si pendukung ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Lima tahun ini saya bekerja di bagian Administrasi SDM. Segala sesuatu yang dikerjakan di bagian tersebut bersifat rutin dan biasanya akan diingat pegawai bila terjadi anomali.

Read more

.cerita dari semangkok mi instan.

.cerita dari semangkok mi instan.

_20170906_153809
mi instan paling enak 🙂

Anak kos dan mi instan bagaikan hujan dan payung. Susah dipisahkan. Demikian juga yang terjadi dengan saya. Sejak masuk SMA dan menjadi anak kos mi instan adalah barang yang wajib dibeli pas belanja bulanan. Zaman itu saya bisa makan mi dua kali dalam seminggu. Selain bikin sendiri di kosan, saya sering juga makan mi bareng teman di warung burjo. Dan yang paling enak dari mi instan ala warung burjo adalah telurnya. Ngga tahu gimana caranya tapi telur di warung burjo ini ngga pecah dan kuningnya matang.

Kebiasaan makan mi terus berlanjut sampai masuk bangku kuliah dan bekerja. Namun frekuensi menikmati mi berkurang jadi maksimal seminggu sekali. Hingga suatu hari saya kena sakit maag. Seingat saya, waktu itu akhir pekan dan saking malesnya keluar buat beli makan, akhirnya saya telat makan dan sakit. Dari kejadian ini, ibu yang jaga kos nyaranin saya buat ngga makan mi instan. Ganti bihun aja katanya. Tapi dasar anak kos ya, gantinya tetep aja bihun instan. Hehe. Waktu itu sih saya manut-manut aja, males juga nyari korelasi mi instan dan sakit maag. Nah, ternyata korelasinya ada di bahan pengawet.

Long story short, sejak sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk makan mi instan kalau lagi di rumah saja alias kalau lagi mudik. Kenapa? Read more

.hiking ala-ala di Gunung Sunda.

.hiking ala-ala di Gunung Sunda.

Setelah pindah ke Sukabumi, saya suka mati gaya kalau weekend. Ngga tahu musti ke mana. Alhasil kalau ngga ke Bogor atau Bandung, di hari Sabtu dan Minggu saya lebih sering ngga kemana-mana alias di kosan saja. Sampai akhirnya ada satu temen kos yang ngajakin pergi ke Gunung Sunda. Waktu pertama dengar Gunung Sunda yang kebayang adalah mendaki gunung. Olahraga Jumat aja malesnya minta ampun, mana kuat buat mendaki gunung. Itu pikiran saya yang ternyata disetujui teman yang lain. Tapi demi kebersamaan halah  plus membasmi mager, kami sepakat buat pergi ke Gunung Sunda.

dsc_3435.jpg

Berbekal peta kami menuju tempat yang ternyata cukup dikenal di Sukabumi. Herannya walaupun pergi ramai-ramai dan semua lihat peta, kami tetap nyasar. Setelah bertanya dengan warga pun kami tetap susah nemuin Gunung Sunda. Ketika akhirnya sampai di lokasi, hari udah siang dan agak ngga enak buat kegiatan jalan kaki.

Read more

.jalan-jalan sambil belajar di Observatorium Bosscha.

.jalan-jalan sambil belajar di Observatorium Bosscha.

Sudah lama saya ingin bercerita tentang Observatorium Bosscha. Meski baru dua kali ke sini (2015 dan April 2017) saya suka banget dengan Bosscha. Selain berada di Lembang yang terkenal adem aura Bosscha yang tenang membuat saya jatuh cinta. Kompleks observatorium Bosscha sendiri merupakan kawasan yang dikelola oleh ITB dan menjadi tempat penelitian bagi mahasiswa Astronomi. Asal mula pendirian tempat ini berasal dari sumbangan pengusaha perkebunan bernama Karel Albert Bosscha. Kecintaan pada ilmu pengetahuan lah yang membuat pak Bosscha menghibahkan kekayaannya untuk pendirian observatorium.

dsc_3549.jpg
selamat datang

Kunjungan perseorangan di Observatorium Bosscha dibuka setiap Sabtu dan Minggu. Saya sarankan untuk ke sana pagi. Selain akses ke Lembang yang bebas macet, berkunjung pagi membuat kita bisa menikmati udara segar dan suasana tenang di observatorium lebih lama. Buat yang suka foto-foto, datang pagi hari berarti lebih puas mengambil gambar dan bergaya 🙂

dsc_3565.jpg
adek saya: salam dari Lembang
DSC_3615
di dekat teleskop radio

Bangunan yang paling terkenal dari kompleks observatorium Bosscha adalah rumah teleskop Zeiss yang disebut kupel. Kalau kita mencari #bosschaobservatory atau #observatoriumbosscha di instagram, gambar yang paling banyak keluar adalah kupel Zeiss. Dalam kunjungan ke Observatorium Bosscha, setiap orang akan mengikuti dua kegiatan. Pertama masuk ke dalam kupel untuk melihat cara kerja teleskop Zeiss dan kedua penjelasan tentang perbintangan di ruang multi media.

Pemandu saya siang itu bernama mas Zainudin yang berprofesi sebagai peneliti. Beliau menjelaskan bahwa di belakang lokasi observatorium Bosscha terdapat patahan Lembang yang bila gempa tidak akan lebih dari 7 skala richter. Bangunan kupel sendiri didesain tahan sampai 7 SR. Di Bosscha terdapat 22 teleskop dan lima diantaranya merupakan teleskop besar.

DSC_3597
teleskop Zeiss

Read more