.Menemukan Closure.

Beberapa bulan lalu, saya kembali menghadapi perubahan dalam hidup. Lagi-lagi dipaksa keluar dari zona nyaman. Pindah tugas. Seperti yang sudah-sudah, saya tetap perlu waktu untuk bisa menerima perubahan tersebut. Tentu saja saya melewati fase denial, berharap semuanya dapat berubah ke kondisi awal. Nyatanya? Tidak. Ibarat kata, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Mau ngga mau, suka ngga suka saya harus menjalaninya.

Berat sekali meninggalkan kenyamanan yang sudah didapat. Seperti dipaksa putus pas lagi sayang-sayangnya. Saya bahkan ngga mau membahas masalah ini dengan siapapun. Rekan kerja, keluarga maupun sahabat. Sudahlah, anggap saja itu ngga ada. Saya tetap di sini, ngga harus keluar dari kantor ini.

Setelah sekitar 3 minggu menyangkal dan berharap ada keajaiban bahwa saya ngga jadi keluar dari tempat nyaman itu, saya harus menghadapi realita. Menjalani apa yang sudah seharusnya menjadi tugas saya. Tidak mudah ketika harus packing kemudian berpamitan dan mulai bekerja di kantor baru. Saya ingat betul, sengaja belum pamit di grup Whatsapp kantor lama. Rasanya saya harus melepas pelan-pelan, ngga bisa langsung semua saya lepaskan di satu waktu. Lalu pada suatu sore, karena ada keperluan saya ke kantor lama. Menengok ruangan yang pernah menjadi tempat kerja dan kebetulan di sana bertemu dengan tim saya dulu yang sedang lembur untuk kegiatan kantor. Kami mengobrol sebentar, seolah saya masih di kantor itu dan belum pindah. Setelah dari kantor, sore itu saya memesan mobil online untuk kembali ke kota tempat saya ditugaskan. Entah kenapa, dalam mobil itu saya memutuskan untuk pamit dari grup. Tidak ada perasaan istimewa ketika mengetik dan mengirimkan kalimat perpisahan di grup. Namun saya tiba-tiba menitikkan air mata dan menangis saat mulai membaca balasan teman-teman di grup. Saya menangis agak lama. Sudahlah sore-sore mendekati Maghrib, hujan pula. Sungguh nelangsa. Untung bapak pengemudi ngga dengar tangisan saya. Karena saya ngga tahu harus bilang apa kalau ditanya kenapa menangis. Tapi alhamdulillah, setelah tangisan itu usai, hati dan pikiran saya lega. Seperti ada beban yang terangkat. Saya bisa melihat perjalanan saya di kantor lama sebagai kenangan yang indah dan menghangatkan dada. Ketika sepertinya semua teman sudah membalas perpisahan, saya bisa keluar dari grup dengan ringan.      

Setelah membaca artikel ini, barulah saya mengerti. Saya sudah menemukan “closure”. Penutup. Saya akhirnya bisa menerima, kejadian ini memang harus saya jalani dan yakin bahwa Allah SWT pasti memberikan yang terbaik. Mungkin tanpa saya sadari, selama 3 minggu itu saya mencoba mencari penutup dari cerita saya di kantor lama. Dalam kasus saya, jujur pada diri sendiri tentang yang dirasakan dan memberi waktu untuk menerima perubahan membantu saya mendapatkan penutup yang menenangkan. Hidup pada akhirnya memang tentang perubahan, suka ngga suka kita harus beradaptasi dan menjalaninya.    

.#Hiddencicendo: Tur Jalan Kaki Ala Bandung.

let’s walk

Saya suka jalan kaki. Saya suka mendengarkan cerita. Dan yang menggabungkan keduanya dengan sangat apik adalah tur jalan kaki alias walking tour. Saya tahu tentang walking tour ini ngga sengaja. Ketika scroll Instagram, ketemulah saya dengan salah satu akun yang ngadain tur jalan kaki trus kepo deh dengan konsep jalan-jalannya. Setelah melihat postingannya, saya akhirnya mendaftar untuk tur hidden Cicendo.

Sebagai pengalaman pertama ikut walking tour, saya excited banget. Untuk rute hidden Cicendo, peserta diminta berkumpul di depan Gedung Indonesia Menggugat jam 9 pagi. Ternyata peserta tur hari itu cukup banyak sampai harus dibagi 2 grup. Cerita dimulai dari Gedung Indonesia Menggugat yang merupakan pengadilan di masa Belanda. Dan ya ampun, saya kemana aja, kok baru tahu sejarah pemberian nama Indonesia Menggugat ini. Untung ikut tur, ye kan?

Baca lebih lanjut

.Mencoba Lari: 5K Pertama Saya.

wp-1583250134533..jpg

Jika disuruh memilih, antara membaca buku dan olahraga saya akan memilih membaca buku. Jadi buat yang tahu saya, ikut lomba lari itu sesuatu yang ngga mungkin. Untuk menjaga kebugaran, paling saya jalan kaki dan sesekali renang atau lari. Tapi tentu saja ngga sampai 5 kilometer seperti yang mau saya ceritakan ini.

Keikutsertaan saya di acara lari semata-mata karena ajakan dari Shasa, partner traveling setia yang setelah pindah ke Jakarta jadi demen ikut lari-larian. Berhubung kami sekarang sudah pisah kota, lomba lari ini sekaligus menjadi ajang main bareng. Lari yang saya ikuti adalah FEBulous run dari alumni Fakultas Ekonomi UGM sekitar 6 bulan lalu, tepatnya September 2019. Duh ketauan saya males nulis nih.

Sebagai pengalaman pertama mengikuti lari, saya ngga punya target muluk-muluk. Sederhana saja, bisa finish dengan selamat maksimal 60 menit. Idealnya, sebelum ikutan lari latihan dulu kan ya biar badan terbiasa. Apa daya, sekitar dua minggu sebelum tanggal lomba lari, kaki saya sakit. Tiba-tiba saja pas lagi jalan-jalan kaki seperti keseleo. Ternyata sampai di hari H, kaki saya belum sembuh sepenuhnya. Lalu apakah saya tetap lari? Yup, saya memaksakan diri untuk ikut lari. Hasilnya? Saya finish dengan komposisi jalan lebih banyak daripada lari. Alhamdulillah, masih di bawah 60 menit.

Oya, kalau melihat rutenya, saya masih ngga percaya bisa juga saya lari sejauh itu. Tapi memang manusia begitu kan, kadang merasa dirinya tidak mampu bahkan sebelum mencoba.

 

.Tentang Harapan dan Keinginan.

hope

Salah satu hal yang membuat kita bisa bertahan dalam suatu kondisi yang sulit dan tidak menyenangkan adalah adanya harapan bahwa di waktu yang akan datang, keadaan akan membaik. Baik karena usaha kita sendiri atau karena berbagai perubahan yang pasti terjadi. Begitu juga di dunia kerja. Tahun ini, memasuki tahun ke-9 saya bekerja di perusahaan yang telah banyak memberi warna dalam hidup. Selama hampir 1 dekade, saya merasakan pasang surut. Tantangan, rasa puas karena mencapai kinerja yang diinginkan, pindah dan adaptasi, bosan, ingin menyerah, keinginan mencoba bidang lain serta kebahagiaan karena dikelilingi lingkungan yang baik.

Dari sekian pasang surut itu, yang paling menganggu adalah bila keinginan pindah datang. Ada banyak faktor penyebab, namun salah satu pemicu munculnya keinginan itu di diri saya adalah keinginan pindah ke kota dan bagian tertentu. Bukan karena apa yang saya kerjakan sekarang tidak menarik dan kotanya tidak nyaman, tapi lebih ke keinginan mencari yang lebih nyaman. Di titik ini, saya merasa menjadi orang yang kurang bersyukur.  Kayanya enak kalau pindah nanti bisa ini itu atau itu enak banget sih si A, soalnya dia bla bla bla. Semua mengarah ke orang lain dan tidak fokus pada berbagai kemudahan yang dirasakan sendiri.

Minggu lalu, ketika rasanya hati tidak tenang dan banyak keinginan ini itu yang akhirnya membuat semangat turun, saya mengontak seorang teman. Panjang lebar kami bertukar pikiran lewat whatsapp. Kami sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu sawang sinawang, saling melihat. Dan umumnya, rumput tetangga terlihat lebih hijau. Tentang keinginan pindah, kami berdiskusi bahwa tidak semua kenyamanan tempat atau kota yang kita bayangkan itu akan menjadi asyik dan nyaman ketika sudah kita jalani. Dia mengingatkan tentang kenalan kami yang sudah mendapat apa yang dia inginkan tapi nyatanya hati dan pikirannya tidak nyaman dan kalau boleh memilih, ingin kembali ke tempat sebelum kenalan kami ini pindah.

Pada akhirnya, saya harus setuju dengan kalimat be careful with you wish for. Emosi sesaat, rasa jenuh yang salah disikapi atau hanya rutinitas yang membuat bosan tidak selamanya harus direspon dengan keinginan pindah. Hati-hati dengan harapan dan keinginan ini tidak cuma berlaku untuk masalah pekerjaan saja menurut saya. Sebab, saat kita mengharapkan sesuatu, kita akan memikirkan dan mengucapkannya sehingga seperti nasehat lain, kata-kata itu akan menjadi doa dan menentukan nasib kita selanjutnya. Semoga saya selalu ingat, untuk menjalani apapun dengan syukur. Be careful with you wish for and always think positive.

.Pensiun Di mana Nanti?.

🙂

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di pikiran saya. Senin lalu, ada dua pegawai di kantor yang pensiun. Kedua pegawai tersebut telah mengabdi selama 35 tahun dan 36 tahun. Rasa sedih dan haru tidak hanya dirasakan oleh pegawai yang pensiun. Namun juga oleh rekan kerja, atasan maupun bawahan.

Tahun ini ngga terasa sudah 1 windu saya bekerja. Dalam kurun waktu tersebut saya mengalami pindah ke tiga kota berbeda. Sering? Tidak. Ada rekan yang lebih sering pindah daripada saya. Pindah kerja selain menimbulkan kegalauan juga menambah pengalaman dan pergaulan. Dan pada akhirnya menimbulkan pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Lebih dalam lagi, pertanyaan tersebut saya bawa baper dengan nanti ada yang sedih ngga kalau saya pensiun? Hahaha.

Mungkin banyak yang berpikir ngapain mikirin yang belum tentu dan masih nanti. Betul. Pada akhirnya saya juga mengambil kesimpulan tersebut. Sudahlah jalani saja semua ini dengan benar. Jalin hubungan yang baik dengan rekan kerja. Karena saya percaya, peristiwa yang terjadi dan orang yang saya temui bukanlah kebetulan. Jadi, pensiun di mana saya nanti? Di manapun itu semoga merupakan tempat yang diberkahi Allah SWT. Aamiin.